Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Manusia Langit: Mengenal Bilangan Kehidupan

Di dalam kehidupan sehari-hari selalu berhubungan dengan angka dan angka hanyalah mungkin sebatas ukuran yang digunakan sebagai taksiran nilai.  Mungkin di dalam angka tersebut adalah segala hal yang berhubungan ukuran dengan fisik dan materi ataupun non fisik yang dimaterialkan.  Maka ketika di kaitkan dengan kehidupan diri sebagai manusia mungkin merupakan hal yang tidak lazim karena hanya sebatas ukuran itu saja. Tidak mungkin sesuatu yang ada di dunia ini tidak memiliki sebuah tanda-tanda agar diri selalu ingat pada hakekat tugas sebagai manusia yang sempurna.  Tugas yang mungkin bagi diri kita (waktu perjanjian) adalah sebuah tugas yang mudah dijalani oleh diri kita dalam kehidupan di dunia ini.  Namun akibat dari "lalai"nya diri atau di nol kan pemahaman hidup yang dijalani pada saat diri dilahirkan maka menjadikan diri lupa atau dilupakan dengan hakekat tugas yang seharusnya dilakukannya. Lupa dan lalainya diri kita sebagai manusia maka diingatkan dengan bilan...

Manusia Langit: Menggapai Kesempurnaan

Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Sang Pencipta yang sebuah karunia besar diberikan kepada diri kita sebagai manusia.  Sebagai makhluk yang sempurna pastilah memilki keistimewaan serta diharapkan akan menjadi kekasihnya dan diberikan tugas yang spesial dalam kehidupannya. Maka tidak heran muncul sifat yang tidak senang dari para malaikat dan iblis manakala Sang Pencipta hendak menciptakan diri manusia sebagai makhluk yang sempurna. Ketidaksetujuan dari para malaikat dan iblis tersebut menjadikan sebuah "guncangan/pemberontakan" yang pertama di surga manakala keduanya disuruh untuk sujud kepada Adam AS.  Namun hanya iblis yang tidak mau bersujud ketika pembuktian keistimewaan dan kesempurnaan sudah dibuktikan dan ditunjukkan memang manusia pantas untuk menjadi makhluk yang sempurna.  Peristiwa inilah asal muasal diri manusia akan menjalani kehidupan yang sulit bahkan melepas kesempurnaannya dengan terlena godaan manis bujuk rayuan kata dar iblis kepada A...

Manusia Langit: Universality of Law

Artikel ini lanjutan dari "Manusia Langit: Menebas Rantai dan Belenggu Kehidupan".  Dalam artikel tersebut membahas tentang banyaknya diri kita yang tidak mengetahui bahwa ternyata dalam kehidupan ini ibarat hidup yang selalu terjebak sehingga menjadikan diri kita selalu terpenjara pikir serta perasaan dengan beban kondisi perjalanan berat yang harus dijalani.  Dan hal ini mengakibatkan hidup yang dijalani hanya berorientasi sekedar menjadi "kuli panggul" atas beban kondisi kehidupan. Maka dalam tulisan ini mencoba mengajak diri kita mengkaji faktor dasar yang mengakibatkan memilih menjalani kehidupan hanya sekedar sebagai "kuli panggul" tersebut.  Faktor dasar yang sebetulnya menjadi akar permasalahan adalah hubungan dengan prinsip hidup yang dibangun dari hukum-hukum atau aturan-aturan hidup yang sudah ada sebelum diri kita dilahirkan.  Bahkan mungkin aturan-aturan atau hukum-hukum tersebut sudah dianggap sebagai ilmu atau pemahaman yang memiliki kebenar...

Manusia Langit: Menebas Rantai Dan Belenggu Kehidupan

 Tertulis dengan jelas dalam Buku bahwa banyak diri kita sebagai manusia gagal untuk menjadi derajat "orang atau seseorang" yang menunjukkan derajat tertinggi bagi makhluk.  Orang atau seseorang hakekatnya memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan dengan diri dengan sebutan sebagai manusia.  Namun banyak dari diri kita yang tidak pernah mau memahami makna dari hal tersebut karena menganggap bahwa itu hanya sekedar perbedaan kata ganti yang tak memiliki makna yang mendalam. Padahal jelas bahwa antara orang dan manusia memiliki perbedaan yang jelas di mata Sang Pencipta.  Karena di dalam makna  kata ganti tersebut menunjukkan derajat kepemilikan "ilmu" dan kepemilikan kemauan untuk menempuh jalan hidup yang lurus di kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal pulang. Sebuah kerugian yang besar manakala hal ini terjadi karena merupakan masalah sederhana yang sering ditemui namun dianggap sebagai perkara yang tidak bermakna kiasan.   Mengapa hal ini...