Manusia Langit: Mengenal Bilangan Kehidupan
Di dalam kehidupan sehari-hari selalu berhubungan dengan angka dan angka hanyalah mungkin sebatas ukuran yang digunakan sebagai taksiran nilai. Mungkin di dalam angka tersebut adalah segala hal yang berhubungan ukuran dengan fisik dan materi ataupun non fisik yang dimaterialkan. Maka ketika di kaitkan dengan kehidupan diri sebagai manusia mungkin merupakan hal yang tidak lazim karena hanya sebatas ukuran itu saja.
Tidak mungkin sesuatu yang ada di dunia ini tidak memiliki sebuah tanda-tanda agar diri selalu ingat pada hakekat tugas sebagai manusia yang sempurna. Tugas yang mungkin bagi diri kita (waktu perjanjian) adalah sebuah tugas yang mudah dijalani oleh diri kita dalam kehidupan di dunia ini. Namun akibat dari "lalai"nya diri atau di nol kan pemahaman hidup yang dijalani pada saat diri dilahirkan maka menjadikan diri lupa atau dilupakan dengan hakekat tugas yang seharusnya dilakukannya.
Lupa dan lalainya diri kita sebagai manusia maka diingatkan dengan bilangan atau angka yang seharusnya menjadi pelajaran dalam kehidupan ini. Betapa besar rasa sayangnya dan kasih yang diberikan Sang Pencipta kepada manusia sehingga selalu mengingatkan dengan simbol-simbol kehidupan yang ada agar diri tidak terjerumus dalam kerugian dalam kehidupan ini. Bilangan yang ada dalam kehidupan ini seharunya salah satu pengingat dan mengajak diri untuk "baca" dengan berpikir dan mengetahui untuk mengenali "jalan lurus" agar dapat pulang dengan baik.
Namun realita banyak diri kita yang tidak menganggap "peristiwa (bilangan/angka)" atau hal-hal yang bersinggungan dalam kehidupan diri sebagai bentuk pengingat akan tugas diri dalam kehidupan ini. Sangat disayangkan jika ini tidak pernah menjadi sebuah pemantik kesadaran betapa banyaknya Ayat-ayat Tuhan yang ada di sekitar diri kita agar diri tidak lalai dengan tugas yang diembannya. Hal ini akibat diri terjebak dalan rantai dan belenggu hidup yang selama ini membatasi pikir kita untuk menemukan koneksi dengan Sang Pencipta.
Angka Dan Arah Kehidupan
Ingatlah bahwa pada hari tertentu kita akan dikumpulkan dan dimintai pertanggungjawaban dengan akuntabilitas yang tinggi. Karena tidak ada yang terlewat dengan apa yang dilaporkan dan bahkan tidak ada manipulasi laporan yang tersaji agar dapat menunjukkan sisi untung dan meminimkan sisi kerugian. Dan mungkin buku laporan yang diri terima juga dalam bentuk kalkulasi angka antara sisi kebaikan dan sisi keburukan.
Banyak orang lalai dengan hari itu karena kesibukannya untuk mengejar keinginnan. Keinginnan yang bukan dari hasil olah potensi diri namun hanya sekedar kebutuhan yang muncul dari kegagalan dalam mengelola indra manusia. Tapi mungkin kesibukan ini adalah hal yang wajar bagi diri di dalam lingkungan manusia secara umum. Namun pada hakekatnya adalah sebuah kekeliruan karena diri malas untuk mencari dan menemukan jalan lurus akibat malas "baca".
Tugas "baca" seharusnya tidak sekedar hanya melihat dengan mata dan mensuarakan apa yang dilihatnya. Dan ketika baca hanya sekedar hasil dari "lihat dan bersuara" ini maka mungkin dapat dikatakan bahwa diri masih sebatas level anak sekolah tingkat SD karena tidak mampu memahami apa yang dibacanya. Karena pengetahuan tidak terbentuk dengan cara baca level ini. Maka tidak heran banyak diri kita yang mungkin sering baca bahkan sampai hafal tapi tidak tahu atau tidak tersimpan dalam dada sehingga mengakibatkan diri ketika beraktivitas lepas dari bacaan tersebut.
Ketika diri mampu membiasakan untuk baca dan segala pemahaman bukan diolah sendiri namun hasil dari koneksi diri dengan kerjanya akal maka akan ditemukanlah petunjuk untuk menjalani kehidupan ini. Petunjuk hidup yang berupa jalan akan berakhir dengan pemahaman yang sering kita kenal dalam kehidupan sehari-hari yaitu bilangan. Arah atau tanda bilangan inilah yang sebetulnya merupakan bentuk atau notifikasi arah perjalanan diri kita.
Tiga bentuk notifikasi atau catatan yang ada pada diri kita dibedakan menjadi tiga golongan atau bilangan yaitu:
Pertama: Golongan orang yang beruntung. Simbul dari golongan ini adalah golongan yang melangkah ke arah kanan atau sering disebut dengan positif. Maka segala tindakan yang ada adalah selalu positif dan pikiran yang ada di dalamnya adalah positif thingking dan dalam menjalani kehidupannya tidak pernah memiliki negatif thingking.
Sebagai bilangan (manusia) yang positif maka dirinya adalah menunjukkan jati dirinya sendiri tanpa ada "pakaian" lain yang menempel di dalamnya. Karena merupakan bilangan positif maka hasil kerjanya adalah sesuatu yang positif dan akan meninggalkan sesuatu yang baik dan benar berapapun hasil yang diembannya. Dan dalam menjalani kehidupannya karena dirinya tidak memiliki unsur negatif (negatif thingking) maka loloslah dari jerat-jerat cinta kehidupan dunia.
Golongan ini adalah mereka yang memiliki keinginan untuk selalu menemukan jalan pulang. Maka salah satu cirinya adalah gemar melakukan aktivitas "baca". Hasil dari "baca" inilah menemukan petunjuk dalam bentuk pengetahuan yang benar sehingga mampu membentuk pribadi yang berperilaku baik dengan ciri kepribadian yang positif. Sabar dalam menghadapi liku-liku perjalanan dan selalu berpegang pada pedoman hidup adalah implementasi dalam kehidupannya.
Hatinya tidak pernah terisi dengan noda-noda hitam yang merupakan penyakit umum diri kita. Maka hati yang dimiliki adalah sebuah kapasitas atau rak-rak pemahaman yang berisi pengetahuan dan membentuk prinsip hidup yang kuat. Itulah pribadi diri manusia yang sempurna dan tangguh serta mampu mengemban amanat sebagai makhluk yang sempurna.
Kedua: Golongan orang yang merugi. Simbul dari golongan ini adalah bilangan nol. Maka sudah pasti tidak memiliki nilai dalam hidupnya. Bagaikan orang yang berdagang maka dagangannya tidak laku dan tidak menghasilkan untung. Capek dan berkeluh kesah serta rasa khawatir adalah mengisi dominasi pikirnya.
Bilangan nol yang tak memiliki nilai jika tidak disandingkan dengan bilangan lain adalah perwujudan dari pribadi diri yang merugi. Maka dalam kehidupannya hanya bagai benalu yang suka menempel kepada angka (manusia) lain agar diri kita bernilai. Dan segala aktivitas kerja yang dilakukan adalah tidak memiliki nilai apapun karena kerjanya nol dan hanya ikut bilangan (manusia) lain.
Golongan diri kita yang dapat masuk dalam pribadi ini adalah diri yang malas untuk berubah. Malasnya diri berubah karena diri merasa aman dan cukup dengan menempel orang lain. Maka tugas "baca" tidak pernah dilakukannya. Dan dalam bahasa kasar dapat dikatakan diri kita terjerat dalam masa kebodohan. Betul-betul sebuah kondisi diri yang mengalami kerugian dan tidak pernah menemukan bekal untuk dibawa pulang dan dipersembahkan kepada Sang Pencipta.
Sindiran keras untuk golongan ini adalah diri sebagai manusia yang memperdagangkan petunjuk akibat perilaku yang tidak utuh (kurang akal/beriman). Perdagangan yang dilakukannya adalah agar diri dapat memenuhi keinginan dan walaupun terpenuhi namun hanya habis untuk mencukupi rasa "ingin"nya saja. Perilaku yang malas berpikir sehinggi diri hidup dalam posisi mabuk bagaikan selalu minum khamr dalam sehari-harinya akibat dari kebanyakan keingingan yang inigin dipenuhinya.
Golongan ini hatinya kosong dan tidak keras karena tidak mampu memaksimalkan fungsi hati akibat diri tidak pernah belajar. Maka tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupnya dan tidak pernah akan mencapai diri sebagai makhluk yang sempurna. Kerugian yang besar karena tidak memiliki nilai yang harus dipertanggunjawabkan manakala bertemu pada hari pertanggungjawaban.
Ketiga: Golongan orang yang salah jalan. Simbul bilangan negatif adalah untuk golongan ini. Karena dalam hidupnya selalu berjalan ke arah yang salah. Dan mungkin kebaikan yang dilakukan tidak pernah ada karena aktivitas yang dilakukan di niati tidak dengan hal yang positif.
Sebagai bilangan yang negatif maka langkah yang dilakukan adalah menuju sisi kiri. Gambaran sisi kiri sudah jelas dan tidak perlu di nyatakan karena itulah tujuan dalam hidupnya. Dan Kerjanya adalah selalu menjadi beban diri sendiri ataupun manusia lain. Dan sebagai bilangan negatif maka cirinya adalah selalu memakai pakaian minus karena dirinya ibarat selalu merasa kurang dalam memenuhi keingingannya.
Golongan kiri adalah pribadi yang tidak membuat keseimbangan malah mungkin akan selalu menumpahkan darah dan membuat kerusakan untuk memenuhi keinginannya. Karena banyaknya beban yang diakibatkan oleh keinginannya maka jalannya adalah bukan jalan naik namun jalan turun. Sehinggi diri yang masuk golongan ini gagal untuk menjadi manusia sempurna sebagai makhluk yang tertinggi drajatnya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh para malaikat banyak nya diri yang gagal menjadi manusia sempurna akibat memilih menjadi golongan negatif.
Hati yang tertutup karena tidak pernah mau menerima perbedaan pemahaman dan pengetahuan menjadikan keras dan lebih keras dari pada batu. Kerja pendengaran dan pengelihatan tidak pernah berfungsi sehinggi hidup bagaikan memakai topeng karena takut kelihatan kapasitas diri yang kosong. Hal ini diakibatkan ketidakinginan menemukan sumber bacaan yang pantas dan benar untuk di "baca". Dan yang pasti golongan ini hidup selalu dalam area negatif.
Mungkin inilah keseimbangan yang dimaksudkan oleh Sang Pencipta untuk diri kita. Bahwa ada golongan yang positif dan golongan yang negatif. Namun apakah mungkin Sang Pencipta menghendaki dan menciptakan seseorang untuk menjadi negatif? jawabannya adalah tidak. Negatif ini muncul karena diri terjebak kesadaran hidup akibat banyaknya pemahamahan dan pengetahuan yang menjadi rantai dan belenggu dalam kehidupan.
Semoga diri kita selalu sadar dan ingin selalu menjadi golongan yang positif. Sadarlah diri kita sebelum hari yang dijanjikan akan datang masanya.
Penutup
Hanya humor sufi yang mengajak diri kita mencermati bilangan yang selalu menjadi ukuran dalam kehidupan diri kita dalam hidup sehari-hari. Namun jarang sekali diri kita memaknai bilangan tersebut dan menggunakan sebagai ukuran langkah dalam perjalan hidup diri kita selama ini. Ingatlah bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh dari Buku namun juga tersirat dari peristiwa dan kejadian yang diri kita hadapi sehari-hari.
Bilangan adalah ukuran... Positif dan Negatif adalah nilainya... Tidak ada yang salah dengan jumlahnya... Namun yang membedakan adalah baju yang ada di depannya.
Baju itu ibarat pengetahuan yang ada... Pengetahuan yang benar akan membawa pada kebaikan... Dan yang salah akan menuju pada kehancuran dan ketidak seimbangan... Itulah hidup diri kita.
Magelang, 30/6/2024
Salam
KAS
Komentar
Posting Komentar