Manusia Langit: Menggapai Kesempurnaan

Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Sang Pencipta yang sebuah karunia besar diberikan kepada diri kita sebagai manusia.  Sebagai makhluk yang sempurna pastilah memilki keistimewaan serta diharapkan akan menjadi kekasihnya dan diberikan tugas yang spesial dalam kehidupannya. Maka tidak heran muncul sifat yang tidak senang dari para malaikat dan iblis manakala Sang Pencipta hendak menciptakan diri manusia sebagai makhluk yang sempurna.

Ketidaksetujuan dari para malaikat dan iblis tersebut menjadikan sebuah "guncangan/pemberontakan" yang pertama di surga manakala keduanya disuruh untuk sujud kepada Adam AS.  Namun hanya iblis yang tidak mau bersujud ketika pembuktian keistimewaan dan kesempurnaan sudah dibuktikan dan ditunjukkan memang manusia pantas untuk menjadi makhluk yang sempurna.  Peristiwa inilah asal muasal diri manusia akan menjalani kehidupan yang sulit bahkan melepas kesempurnaannya dengan terlena godaan manis bujuk rayuan kata dar iblis kepada Adam AS.

Namun tidak sepantasnya diri kita sebagai anak turun Adam AS menyalahkan beliau karena terlena oleh bujuk rayu iblis tersebut.  Sehingga lepas derajat kesempurnaan akibat keteledoran Adam yang mengakibatkan dirinya "terbuka aurat" dan menjadikan jatuh derajatnya.  Namun Sang Pencipta menjanjikan bahwa derajat kesempurnaan untuk manusia agar dirinya dapat tinggal di surga masih dapat tercapai manakala diri manusia selalu berpegang pada Buku Panduan hidup yang diberikan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Buku Panduan tersebut merupakan sebuah kunci sukses untuk mencapai kesempurnaan tersebut sudah jelas sebagai pedoman dalam kehidupannya dan tidak akan tergantikan dengan buku/ilmu-ilmu lain dalam menjalani kehidupan di dunia ini.   Ketika Buku Utama selalu menjadi pegangan dalam kehidupan manusia maka keseimbangan dan kebahagaian hidup pasti akan dicapai dalam perjalanan pulang.  Sebagai bekal dalam kehidupan maka tugas diri kita sebagai manusia hanyalah diminta untuk 'baca" dan masalah pemahaman adalah urusan Sang Pencipta dan bukan atas logika pikir atau perasaan yang dimilikinya.

Namun realita dalam kehidupan yang ada akibat dari unsur internal yang ada dalam diri kita yaitu sifat malas dan kuatir serta faktor eksternal yaitu pihak ketiga menjadikan manusia lepas dan lalai dengan Buku tersebut.  Bahkan dapat dikatakan diri kita ini sekarang ini sudah lepas dari Buku Panduan yang ada dan lebih suka pada rujukan pihak ketiga sebagai pegangan dalam kehidupan ini.  Maka tidak heran adanya manusia dimuka bumi dalam kehidupannya tidak bisa mencapai kesempurnaan akibat selalu "menumpahkan darah" dan membuat kerusakan yang semuanya untuk memuja keinginan "tuhannya"

 

Kegagalan dalam menggapai Kesempurnaan

Sebuah kondisi ideal yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia adalah menjadi orang-orang yang memiliki ilmu yang benar dalam hidupnya. Sehingga dalam menjalani kehidupannya diri kita aktivitas yang dilakukan selalu didasarkan atas keyakinan yang muncul dari pemahaman ilmu bukan dari bisikan ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan umum. Maka semua aktivitas yang dilakukan akan sejalan dengan tugas diri sebagai manusia sebagai makhluk yang sempurna.

Ketika diri dapat menemukan kesempurnaan maka posisi diri dapat dikatakan naik.  Karena akibat dari kepemilikan ilmu yang benar sehingga mampu menemukan jalan yang lurus untuk pulang.  Sehingga dapat dikatakan bahwa kesempurnaan merupakan jalan mendaki untuk menapaki titik keseimbangan kehidupan.

Namun bukanlah sebuah perkara yang mudah untuk mencapai titik kesempurnaan bagi setiap diri manusia karena bahan diciptakan dari sesuatu yang dianggap rendah.  Karena bersifat rendah tersebut maka diri seringkali memiliki sifat yang dipenuhi dengan rasa kekhawatiran dan keraguan untuk mencapainya.  Maka itulah sebetulnya pintu masuk pihak ketiga untuk menggoda diri kita agar mengikuti jalannya dan gagal dalam mencapai kesempurnaan.

Secara hakekat alamiah sebagai diri manusia menyebutkan bahwa kegagalan diri dalam mencapai derajat kesempurnaan disebabkan oleh terjeratnya diri dalam rantai dan belenggu kehidupan.  Hal ini sejalan dengan apa yang sudah tertulis dalam kaidah gambaran manusia secara umum yang terdapat dalam Buku bahwa banyaknya diri yang termasuk di dalamnya. Sehingga menjadikan diri termasuk kategori golongan kiri yang memang dikatakan gagal dalam menjalankan misi kehidupan di dunia ini.

Faktor yang menyebabkan diri terjebak dalam rantai dan belenggu kehidupan ini menyebabkan diri laksana terpenjara dalam kondisi kehidupan yang keliru namun diluar kesadaran.  Kondisi tersebut adalah:

1.  Kondisi hidup terkungkung dalam kebodohan. Diri kita secara tidak sadar mungkin dapat termasuk dalam kategori ini dan mungkin bukanlah termasuk manusia yang bodoh atau tidak berilmu.  Tapi karena diri memiliki ilmu namun bukan menjadikan diri semakin bijaksana (tidak keras hati) dan malah menjadikan diri haus akan pencapaian.  Kerasnya hati yang kita miliki menjadikan diri sulit menerima masukan dan kebenaran sejati akibat terlalu yakin dengan kebenaran dan dasar aktivitas kehidupan yang sedang dijalani.

Hal yang sederhana dapat menjadi pijakan diri kita sebagai bahan renungan adalah apakah diri kita sulit menerima perbedaan pemahaman yang beda dengan ilmu yang kita miliki.  Malah mungkin diri sering mengatakan orang itu tersesat dan salah jalan karena memiliki pemahaman yang berbeda dengan kepemilikan ilmu kita.  Maka jika ini ada dalam diri kita maka perlu kita untuk kembali ke titik nol dan baca kembali Buku untuk menemukan jawaban yang benar.

2.  Kondisi hidup yang terjebak dalam rasa. Banyak dalam diantara kita sulit untuk membedakan "kerja" diri sebagai manusia dalam memutuskan sebuah aktivitas yang akan dilakukan.  Kerja diri yang didasarkan atas "kerja pikir" atau "kerja rasa"  karena dua hal tersebut mungkin sesuatu yang sulit untuk dibedakan akibat diri jarang menemukan pemahaman tentang dua hal tersebut.  Malah mungkin selama ini kita menganggap "kerja rasa" adalah "kerja pikir" itu sendiri.

Hal yang sederhana yang dapat menjadi dasar diri dan untuk dijadikan bahan untuk renungan adalah jika diri mempertanyakan apakah segala hal keputusan ataupun tindakan yang dilakukan adalah didasarkan atas dasar pemahaman yang benar atau kalah dengan olah rasa yang mengikutinya.  Ciri utama diri yang terikat oleh "kerja rasa" adalah banyaknya pertimbangan yang mengalahkan logika kebenaran yang sesuai dengan pemahaman yang benar.  Namun mencari pemahaman yang benar dibutuhkan jam terbang yang tinggi dalam "baca" atas Buku Panduan hidup yang ada dan bukan di dasarkan atas rujukan lain yang mungkin selama ini menjadi pegangan hidup diri kita.

3. Kondisi hidup yang terbuai dengan sifat dasar sebagai manusia. Kesadaran adalah awal untuk diri lepas dari sifat dasar manusia itu sendiri dan manakala diri tidak pernah menemukan maka pasti hidup akan terbuai dan selalu hanya mengikuti kehendak dan keinginan diri sebagai manusia.  Ingatlah bahwa diri adalah makhluk yang seharusnya memiliki derajat tertinggi dibandingkan dengan yang lain namun manakala kesadaran tak muncul maka hidup yang dijalani seperti hewan atau malah mungkin lebih rendah darinya.

Hal yang mendasar sebagai pertimbangan diri untuk mempertanyakan jeratan dalam kondisi ini adalah kehidupan yang kita jalani adalah hanya sekedar untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mempertahankan kehidupan saja.  Artinya bahwa dalam hidup kita hanya sekedar mengusahakan agar jaminan esok tentang hidup diri sebagai manusia terpenuhi bahkan ibadah kita hanya untuk mengejar itu saja.  Mungkin dapat dikatakan sebuah kebodohan manakala aktivitas diri masih kuatir tentang masa depan kehidupan kita di dunia ini.

4. Kondisi hidup yang terlena dengan kebiasaan. Seluruh aktivitas kehidupan seharusnya di dasarkan atas segala ilmu dan pemahaman yang benar dan bukan didasarkan atas pengetahuan yang didapat dari kebiasaan yang biasa dilakukan.  Ketika diri terbiasa dengan hal itu maka hanya menjalankan sebuah "tradisi" hidup yang ada.  Maka benar atau salah ukurannya adalah kebiasaan dan bukan atas dasar ilmu.  Kondisi ini bagaikan melupakan Buku yang menjadi rujukan atas ilmu atau pemahaman kehidupan yang benar.  Sangat disayangkan manakala diri terjerat dalam kondisi hidup dalam bayang-bayang kebiasaan saja.

Hal yang mudah sebagai pengingat diri kita apakah terjerat dalam kebiasaan adalah manakala diri melakukan sebuah aktivitas namun diri tidak menemukan atau memiliki pemahaman atas kebenaran dari aktivitas tersebut.  Hanya sekedar melakukan karena orang lain juga melakukan.  Maka mungkin pantas jika hidup diri kita dikatakan sebagai kaum yang merugi karena diri tidak memiliki jalan yang sama dengan jalan lurus seperti yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.

Empat kondisi kehidupan diri kita yang ternyata menjadi rantai dan belenggu hidup selama menjalani kehidupan di dunia ini.  Hal inilah yang menjadikan diri sulit untuk mencapai kesempurnaan menjadi orang sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya.  Maka tidak mungkin kenikmatan dan kebahagian hidup akan tercapai manakala empat kondisi tersebut masih menjadi rantai dan belenggu hidup diri kita.

Maka membangun kesadaran pada diri dengan cara "baca" adalah resep yang utama untuk diri dalam melepas rantai dan membebaskan belenggu hidup.  Semakin diri lupa dengan apa yang di"baca" maka otomatis diri semakin berat dalam membawa rantai dan semakin kencang tarikan belenggu dalam hidup ini.  Dan tidak akan mungkin diri akan mengakhiri hidup dengan syukur dan khusnul khotimah.

 

Penutup

Hanyalah sekedar humor sufi yang tidak ada yang pantas untuk ditertawakan.  Namun menertawakan diri sendiri yang keliru dan selalu mempertahankan jeratan rantai dan belenggu kehidupan adalah sebuah fenomena yang selalu dijalani.  Dan menertawakan perbedaan pendapat antara penulis dan pembaca adalah sebuah hal yang pantas untuk disadari mana yang keliru.


Ambillah kapak dan tebaslah leher berhala... Ingat berhala tidak punya otak... Karena jika hidup hanya dengan perasaan dan kebiasaan... Bahkan mungkin hanya ingin dan untuk dipuja
Ambillah kapak dan tebaslah dinding penghalang... Karena rantai tak akan hilang hanya dengan berdoa.. (KAS, Hidupku adalah Berhalaku, 25/6/2024)


Terima Kasih
Magelang, 25/6/2024
KAS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diri: Mencari Hakekat dan Indahnya Kematian

DIRI: KONFIRMASI UMUR DAN KEMATIAN

Manusia Langit: Universality of Law