Manusia Langit: Menebas Rantai Dan Belenggu Kehidupan

 Tertulis dengan jelas dalam Buku bahwa banyak diri kita sebagai manusia gagal untuk menjadi derajat "orang atau seseorang" yang menunjukkan derajat tertinggi bagi makhluk.  Orang atau seseorang hakekatnya memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan dengan diri dengan sebutan sebagai manusia.  Namun banyak dari diri kita yang tidak pernah mau memahami makna dari hal tersebut karena menganggap bahwa itu hanya sekedar perbedaan kata ganti yang tak memiliki makna yang mendalam.

Padahal jelas bahwa antara orang dan manusia memiliki perbedaan yang jelas di mata Sang Pencipta.  Karena di dalam makna  kata ganti tersebut menunjukkan derajat kepemilikan "ilmu" dan kepemilikan kemauan untuk menempuh jalan hidup yang lurus di kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal pulang. Sebuah kerugian yang besar manakala hal ini terjadi karena merupakan masalah sederhana yang sering ditemui namun dianggap sebagai perkara yang tidak bermakna kiasan.  

Mengapa hal ini bisa terjadi pada diri kita yang mungkin hanya memiliki kontrak hidup di dunia ini hanya sebentar?  Sebuah pertanyaan sederhana yang mengggelitik dalam dada kita  (bukan perasaan namun logika pikir) jika diri mau mencari kebahagiaan di kehidupan ini.  Namun jika perasaan diri kita yang jalan maka mungkin ini dianggap sebagai sebuah lelucon tanpa perlu untuk direnungkan karena sibuk menggapai keinginan yang menjadi bagian dari rantai dan belenggu kehidupan yang sedang dijalani ini.

Mungkin selama ini aktivitas yang diri kita miliki muncul dengan ketidakpuasan ataupun keterbatasan kondisi yang menjadi rantai dan belenggu hidup.  Dan bukan segala aktivitas didasarkan atas kesadaran hidup sebagai manusia yang hanya menjalankan tugas sebagai "khalifatul fil ardh"  atau pemilik bumi. Atau mungkin mengkombinasikan dua hal tersebut dengan mengatasnamakan tugas sebagai pemilik bumi namun hanya sekedar untuk memenuhi keinginan yang muncul dari kondisi akibat dari ketidakpuasan dan keterbatasan hidup yang sedang dijalani.

Apabila kondisi tersebut masih terjadi pada diri kita maka mungkin diri masih belum memahami tentang rantai dan belenggu hidup yang dimiliki.  Padahal jelas bahwa disebutkan kegagalan diri kita dalam menjalankan misi hidup di dunia ini akibat diri tidak memiliki kemauan (bukan keinginan) untuk melepas rantai atau belenggu kehidupan.  Dan hal ini menyebabkan diri termasuk golongan manusia yang keliru jalan dalam kehidupan di dunia ini.

Sebuah kerugian yang besar dalam hidup diri kita jika kondisi ini benar-benar terjadi sehingga menyebabkan diri kita tidak pernah berpikir untuk melepas rantai dan belenggu kehidupan yang menempel dalam perlananan hidup sebagai musafir di dunia ini.  Memang melepas atau menebas rantai atau belenggu kehidupan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.  Namun ketahuilah manakala diri memiliki kemauan pasti ada jalan untuk melakukan hal tersebut.  Maka tulisan singkat ini sekedar mengajak diri untuk menumbuhkan kesadaran agar dapat mengenali rantai dan belenggu hidup atau malah bisa melepasnya agar dapat menjadi orang-orang pilihan di mata Sang Pencipta.

 

Memahami Rantai dan Belenggu kehidupan

Ketika diri memahami makna yang mendalam tentang rantai dan belenggu kehidupan maka akan selalu berpasangan dengan pemilihan jalan kehidupan yang keliru.  Jalan yang keliru ini adalah hakekat jalan yang sebetulnya dipilih oleh manusia untuk menjalani kehidupan di muka bumi ini yang berdasarkan petunjuk yang ada.  Agar diri menemukan petunjuk jalan yang benar maka disiapkan Buku Panduan hidup oleh Sang Pencipta yang tidak akan pernah bergeser makna dan berganti isinya (direvisi untuk menyesuaikan keadaan kehidupan).

Maka Buku Panduan adalah bekal utama yang seharusnya selalu dipelajari oleh manusia sebagai sumber primer dan bukan malah belajar tentang ilmu hidup pada buku-buku yang kadarnya jauh dari "primer" tersebut.  Malah banyak diantara diri kita tidak pernah mau "menyentuh"nya bahkan banyak yang sekedar memotong bagian tertentu untuk melegalkan tindakan jalan keliru yang diambil demi memenuhi kepuasan dari keinginannya.  Hal seperti inilah yang diramalkan atau dinyatakan bahwa diri kita sebagai manusia "menjual murah" ayat-ayat demi kepentingan pribadinya.

Memahami rantai dan belenggu yang selalu dihubungkan dengan ciri manusia yang keliru memilih jalan kehidupan sebetulnya tidak lepas dalam hal hubungannya dengan kepemilikan ilmu.  Karena kata rantai dan belenggu yang selalu menjadi penjara kehidupan adalah bagaimana diri menghadapi kondisi hidup yang dijalani. Akibat kuatnya rantai  dan kencangnya belenggu menjadikan beban diri yang mengakibatkan keterbatasan dalam memaksimalkan potensi diri yang diberikan kepada semua manusia.  

Umumnya ketika diri mendengan kata rantai dan belenggu pasti pikiran kita akan tertuju pada sebuah benda (rantai dan belenggu).  Dan manakala hal ini terjadi (rantai dan belenggu dianggap benda) maka pasti diri kita tidak pernah merasa bahwa hidup ini bebas untuk apapun. Namun realita  walaupun tidak ada hal tersebut kehidupan diri selalu merasakan bahwa hidup seperti dirantai dan dibelenggu dalam kesehariannya.

Penjara kehidupan yang diakibatkan oleh kondisi ini sebetulnya diciptakan oleh manusia itu sendiri baik itu merupakan pendapat dari para nenek moyang maupun pendapat yang muncul dari perasaan diri kita sendiri.  Dua sumber penjara ini yang menjadikan dasar gerak dan aktivitas diri kita dalam kehidupan membentuk sebuah keyakinan atau prinsip diri dalam menjalani kehidupan.  Dan dua hal ini tidak lepas dari sumber pengetahuan yang menjadi pegangan untuk mengembangkan ilmu-ilmu kehidupan yang ada.

Mungkin ilmu-ilmu yang ada baik yang alamiah maupun ilmiah merupakan sebuah kebenaran yang mutlak karena bersifat umum dan melalui proses pengamatan yang panjang.  Namun manakala kebenarannya dihubungkan dengan hakekat kebenaran akan jauh dari kata benar.  Maka tidak heran banyak ilmu yang akan tergantikan manakala sudah dianggap tidak benar atau dalam bahasa yang santun dikatakan perlu disempurnakan.  

Apakah ini sebuah ilmu jika bersifat demikian? (Mari kita berpikir dan merenung).  Mengapa ilmu yang ada banyak tergantikan? berarti ilmu itu tidak pas bagi  manusia walaupun itu benar menurut para penemu dan penganutnya (berarti tidak general). Padahal ilmu yang benar adalah ilmu yang tidak tergantikan selamanya dan bersifat umum karena dapat dipakai oleh setiap manusia dalam berbagai kondisi dan keadaan.

Maka ketika diri condong dengan hal tersebut yang hanya percaya pada pemahaman dan asumsi manusia yang memiliki pemahaman terlebih dahulu dengan diri kita maka dapat dikatakan diri adalah salah dalam mengamalkan ilmu.  Kesalahan dalam memilih ilmu yang menjadi amalan dalam kehidupan sehari-hari walaupun sebagai sebuah kebenaran (semu) akan mengakibatkan diri keliru dan jauh dari jalan lurus yang seharusnya menjadi pilihan dan menjalani hidup ini.

Ilmu yang diri kita miliki seperti ini sebetulnya merupakan rantai dan belenggu kehidupan diri kita.  Maka tidak heran semakin diri banyak ilmu yang dimiliki akan semakin sempit gerak dan aktivitas diri kita serta menjadi sempit atau malas dalam menalarkan pemahaman yang ada diluar pengetahuan yang dimiliki sekarang karena merasakan kebenaran sudah ada pada diri kita. Sebuah kerugian yang besar manakala diri kita seperti ini karena dibakar oleh ke"aku'an.

Rantai dan Belenggu tidak lain adalah berhubungan dengan kata sifat dan kata kerja yang menjadi peringatan bagi diri manusia akibat dari kepemilikan ilmu yang keliru.  Maka tidak heran rantai dan belenggu akan menjadikan diri selalu menjadi manusia yang payah dan selalu berkeluh kesah akibat kekhawatiran dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  Sebuah perumpaan dengan contoh yang sederhana tentang kehidupan manusia yang ditugaskan untuk menjadi "khalifatul fil ardh". 

 (bersambung: Manusia Langit: Menebas Rantai Dan Belenggu Kehidupan (2))

Penutup

Sebagai pengingat diri sebuah kalimat yang sering kita dengar "apakah diri tidak pernah berpikir atau apakah diri tidak pernah mengetahui" menjadi pemacu semangat belajar tentang ilmu yang benar.  Ilmu yang benar tidak lain adalah bersumber dari Buku yang benar selamanya.  Maka dibutuhkan pencarian dan pemaksimalan kerja akal yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia.  Dengan harapan agar diri tidak termasuk golongan manusia yang memilih benar yang benar menurut kebenaran sendiri.

 

Sering diri melihat angka dengan simbul tujuhenam, Maka sering disebut dengan sebuah kebodohan,  Bukankah itu sebuah pengingat akan kondisi manusia, Dan tertulis dibuku tentang manusia juga pada angka tujuhenam juga. 

Terima Kasih
Magelang, 14/6/2024
Salam KAS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diri: Mencari Hakekat dan Indahnya Kematian

DIRI: KONFIRMASI UMUR DAN KEMATIAN

Manusia Langit: Universality of Law