Manusia Langit: Universality of Law
Artikel ini lanjutan dari "Manusia Langit: Menebas Rantai dan Belenggu Kehidupan". Dalam artikel tersebut membahas tentang banyaknya diri kita yang tidak mengetahui bahwa ternyata dalam kehidupan ini ibarat hidup yang selalu terjebak sehingga menjadikan diri kita selalu terpenjara pikir serta perasaan dengan beban kondisi perjalanan berat yang harus dijalani. Dan hal ini mengakibatkan hidup yang dijalani hanya berorientasi sekedar menjadi "kuli panggul" atas beban kondisi kehidupan.
Maka dalam tulisan ini mencoba mengajak diri kita mengkaji faktor dasar yang mengakibatkan memilih menjalani kehidupan hanya sekedar sebagai "kuli panggul" tersebut. Faktor dasar yang sebetulnya menjadi akar permasalahan adalah hubungan dengan prinsip hidup yang dibangun dari hukum-hukum atau aturan-aturan hidup yang sudah ada sebelum diri kita dilahirkan. Bahkan mungkin aturan-aturan atau hukum-hukum tersebut sudah dianggap sebagai ilmu atau pemahaman yang memiliki kebenaran mutlak dan sudah tidak dapat digoyahkan lagi.
Banyak fenomena yang sekarang terjadi sebetulnya diri kita sudah terjebak pada aturan-aturan atau pedoman dalam berkehidupan yang bersifat lokal atau tersegmentasi. Dan mungkin diri kita sering juga mengatakan adanya lokalitas atau segmentasi aturan dan hukum merupakan bagian dari rahmat dari Sang Pencipta. Sehingga menyebabkan diri merasa bahwa hal tersebut merupakan hal yang wajar dan menjadikan diri kita sebagai manusia malas untuk berpikir.
Jika diri kita tidak memiliki kesadaran atau malas untuk menggunakan potensi diri (sebagai makhluk yang sempurna) mungkin menerima ini sebagai ketetapan dari Sang Pencipta. Hal ini berarti bahwa perbedaan adalah bagian dari "qodho" atau ketetapan Sang Pencipta yang harus dijalani dengan susah payah dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Maka tidak perlu diri kita untuk berpikir lanjut tentang perbedaan atau malah mungkin manakala diri mau belajar dan berpikir dikatakan sebagai orang yang tersesat.
Ingat dan sadarlah bahwa sebetulnya diri kita ditetapkan untuk menikmati hidup di dunia ini dengan kenikmatannya sebagai makhluk yang sempurna. Maka pilihan surga atau neraka sebetulnya dimulai dari kehidupan di dunia ini dengan memilih jalan yang bersusah payah mengikuti ketetapan manusia atau mengikuti ketetapan Sang Pencipta. Dan ketika pilihan atas surga dan neraka sudah terlihat dengan kondisi diri kita manakala menjalani kehidupan di dunia ini.
Pilihan akan kehidupan yang nikmat (surga) adalah di dasarkan atas dasar hukum atau ketetapan yang bersifat universalitas dan bukan atas dasar aturan yang terkotak-kotak. Karena aturan diturunkan dari ketetapan Sang Pencipta dan tersimpan dalam Buku Panduan hidup untuk manusia. Bukan didasarkan atas aturan atau asumsi-asumsi dan penafsiran yang dikembangkan oleh paran pakar ataupun tokoh manusia.
Hukum Universalitas
Perlu diketahui bahwa hakekatnya hidup diri kita di dunia ini adalah sebuah pilihan yang kita pilih sendiri. Sang Pencipta sudah memahami bahwa diri memiliki kelemahan dan kekurangan yang sangat banyak sehingga mengetahui alasan pihak ketiga tidak mau sujud kepada Adam pada saat itu. Karena Sang Pencipta memahami hal itu maka agar diri manusia dapat menjadi makhluk yang memiliki derajat tertinggi dibekali dengan Buku Pedoman hidup yang berlaku universal.
Diri kita akan selamat dalam menjalani perjalanan kehidupan untuk menjalankan tugas manakala selalu berpegang pada Buku Pedoman tersebut. Namun ingatlah ada pihak ketiga yang selalu memantau perkembangan diri kita dalam menjalankan tugas tersebut. Bahkan karena posisi pihak ketiga tersebut merasa tidak diuntungkan dengan hadirnya diri kita sebagai manusia maka dirinya selalu ingin menjerumuskan agar diri memilih jalan semu dalam menjalani kehidupan ini.
Tugas berat untuk manusia di dunia ini harus dijalani dan dipertanggungjawabkan kepadaNYA serta akhirnya akan menjadikan diri kita terbagi pada dua golongan yaitu kanan dan kiri. Golongan kanan adalah diri kita yang memiliki kesadaran untuk selalu berpegang pada Buku tersebut karena akibat terbentuknya prinsip dan kepemilikan ilmu yang didasarkan dari ketekunan dalam baca Buku tersebut. Hal ini mengakibatkan diri kita yang masuk dalam golongan kanan selalu berpegang pada hukum dan ketetapan Sang Pencipta yang bersifat universal tersebut.
Hukum atau ketetapan yang universal adalah merupakan aturan-aturan yang berasal dari Sang Pencipta yang bersifat "umum" dan menjadi satu-satunya kebenaran yang mutlak. Ke"umum"an ini adalah bentuk tidak ada pembedaan atau segmentasi suku/ras/bangsa karena tidak ada pembedaan dan perbedaan diantara manusia. Maka segala aturan adalah mengikat secara umum karena ketetapan sudah disempurnakan dan dicukupkan menjadi sebuah Buku dan berlaku universal dan menjamin keselamatan dan kebahagian hidup umat manusia.
Sedangkan kebenaran yang mutlak merupakan sebuah satu-satunya kebenaran bukan merupakan persepsi dari perasaan "baik" menurut asumsi bagi manusia. Ketika terjadi perbedaan atas sebuah ketetapan yang ada dan digunakan maka perlu "baca" kembali rujukan yang utama yaitu Buku tersebut. Terjadinya ketetapan atas sebuah hal yang berbeda pasti ada yang salah dalam membaca atau salah rujukan yang diambilnya. Ingatlah sebuah ketetapan itu pasti terjadi sama baik waktu maupun lainnya bukan berbeda untuk golongan A atau B dan golongan lainnya.
Ketika ketetapan yang dipakai diri kita ternyata berbeda maka sebagai orang yang berakal karena diri bukan hewan yang tunduk dan patuh kepada hal tersebut. Maka sangat rendahlah derajat diri kita manakala hanya memiliki rasa "ewuh pekewuh" karena berbeda dalam mensikapi perbedaan itu akibat diri mampu menemukan ketetapan yang memiliki kebenaran berdasarkan Buku. Ingatlah manakala diri masih bersifat malas mencari kebenaran untuk mencari hukum yang univesal itu hakekat dari bagian rantai dan belenggu kehidupan yang tidak nampak.
Sedangkan golongan kiri adalah diri yang hanya mengalir dalam hidup ini karena hanya mengikuti ke"umum"an manusia di sekitar kita. Bahkan manakala diri melihat sebuah air yang mengalir ke atas dikatakan sebagai hal yang tidak umum dan dicemooh bahkan mungkin dianggap gila atau sesat. Hal ini mungkin akibat diri hanya mengadalkan indra "rasa" dan memunculkan ego yang tidak ingin melihat perubahan.
Pendapat ini muncul pada manusia manakala diri kita tidak mampu memaksimalkan potensi yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta sebagai bekal untuk memahami ketetapan yang ada dalam Buku. Hal ini diakibatkan diri memiliki penyakit "was-was dan kuatir" akibat dari perilaku hidup yang malas dan tergesa-gesa. Dan inilah yang dinyatakan dengan jelas dalam Buku bahwa banyak diri kita yang akan mengalami kondisi ini akibat dari hanyut dalam bisikan pihak ketiga dan mengakibatkan terlena indahnya kehidupan di dunia ini.
Sebuah kerugian yang sangat besar manakala diri dalam posisi yang demikian yang terlena dalam hukum yang tersegmentasi (bukan universal menurut Buku). Diri yang sangat yakin dalam hukum ini hakekatnya bukan orang bodoh karena juga memiliki ilmu. Namun ilmu yang dimiliki hanyalah merupakan hasil persepsi dan pendapat orang yang disesuaikan dengan keinginan yang diharapkan.
Hukum atau ketetapan yang tidak universal biasanya tercipta dari keinginan yang menjadi tuhan dalam diri manusia. Sehingga pemahaman yang muncul dari diri memahami ketetapan Sang Pencipta adalah bentuk pencapaian keinginan agar diri dapat memuaskan ego yang menguasaninya. Sebuah rantai belenggu kehidupan yang tidak banyak disadari oleh diri kita dalam menjalani hidup ini.
Ingatlah ada pihak atau manusia yang selalu mengibarkan bendera kekeliruan agar selalu mengikuti golongannya agar diri keliru dalam menjalankan ketetapan yang ada.
Penutup
Hanya sekedar humor sufi yang melihat banyaknya perbedaan yang terjadi dengan melihat peristiwa-peristiwa yang seharusnya sama namun terjadi perbedaan pelaksanaannya. Perbedaan yang mungkin diri lihat sebagai manusia yang bodoh dalam mensikapi perbedaan akibat mereka memiliki pendapat yang berbeda dengan sikap ingin menang dan diakui sebagai golongan yang benar. Apakah diri hanya menjadi pengikut saja karena diri malas untuk Baca. Bacalah agar diri tidak keliru jalan.
Ada manusia yang memilih jalan sebagai orang beriman... Karena diri selalu membaca Buku yang sudah diberikan... Potensi diri sebagai manusia di maksimalkan dengan benar... Sadar dan paham akan tujuan hidup adalah cirinya.
Namun banyak manusia memilih jalan yang berbeda... Semu dan menyesatkan... Indah namun penuh dengan sifat yang Fana.. Was-was dan tergesa-gesa akan selalu menjadi teman setia dalam menjalani kehidupan. (KAS, Universality of law)
Terima kasih.
Magelang, 16/6/2024
KAS
Komentar
Posting Komentar