Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Manusia Langit: Akhirnya Setan Menangis Juga

Tidak bisa dipungkiri mungkin dibenak diri kita sehari-hari tidak pernah terbesit pikiran bahwa dalam kehidupan ini selalu membuat setan merasa bahagia dan puas dengan keberhasilan tugasnya.  Keberhasilan tugasnya tidak lain adalah mencari teman sejati untuk diajak tinggal bersama di rumah pembuangan yang dijanjikan oleh Sang Pencipta.  Ingatlah bahwa terbuangnya dia dari surga akibat dirinya hanya membantah satu perintah untuk bersujud kepada Adam. Hanya satu perintah yang membuatnya terbuang dari kedekatan dengan Sang Pencipta karena kesombongannya menghapus segala kebaikan yang telah dia lakukan.  Betapa sedih dan kecewa dirinya dengan hal itu maka tidak salah dengan permintaan untuk "balas dendam" agar dia diberikan kesempatan mencari teman yang bisa untuk meramaikan tempat pembuangan.  Tangisan awal setan (pihak ketiga) ini yang terjadi sejak firman Sang Pencipta kecewa dengan perilaku kesombongannya dan mengakibatkan tidak mau sujud atau membangkang perintahNYA...

Manusia Langitan: Dari Ketiadaan Menuju Keberadaan

Pernahkah diri kita berpikir bahwa mengapa diri diciptakan dan dijadikan manusia untuk hidup di dunia ini?  Mungkin bagi diri yang terlalu sibuk dengan pekerjaan tidak pernah memiliki pertanyaan seperti ini atau malah mungkin tidak menghiraukan dengan hal ini karena buat apa memikirkannya dan malah menjadikannya pusing.   Atau malah memiliki pikiran bahwa itu bukan urusannya karena sudah ada yang memikirkan dan diri kita tinggal mengikutinya saja.  Dan ketika kondisi seperti sudah terjadi maka jalan untuk menemukan jati diri sebagai manusia dengan kesempurnaannya tidak akan pernah ditemukan karena semakin jauh kepemilikan pemahaman tentang hidup yang benar ditemukan di kehidupan yang dijalani. Pemahaman tentang diri kita diciptakan dan dihidupkan dimuka bumi tidak sekedar hidup yang seperti ini.  Karena dunia hanyalah sebagai proses diri untuk menuju keberadaan manusia yang sejati. Maka hakekat dari "keberadaan" diri sebagai manusia sebetulnya bukan tentang sesuatu y...

Manusia Langit: Kebersyukuran Diri

Seringkali diri selalu diingatkan ataupun terbiasa mengucapkan syukur atas segala hal yang telah diberikanNYA kepada kita.  Tindakan diri kita ini sebagai sebuah "kebiasaan yang latah" atau memang memahami apa yang seharusnya dilakukan atas rahmat dan rahman yang telah diterima.  Jika hal ini dilakukan karena latah (tidak berasal dari hati) mungkin bisa dianggap sebagai sebuah "penghinaan" karena mengucapkan terima kasih yang dilakukan tidak berdasar. Dan mungkin ini juga sering kali diri kita melakukannya. Dikatakan tidak berdasar karena diri melakukan sebatas keterkejutan atas hal yang diri terima.  Sebuah kebodohan yang mungkin tidak disadari namun sering kali menjadi sebuah kebiasaan yang sering diri kita lakukan.  Dan hal ini dapat dikatakan diri kita sebagai bagian orang yang "kerja" atau beraktivitas namun tidak didasarkan oleh pengetahuan atau ilmu.  " Apakah kamu tidak berpikir " adalah sebuah pernyataan yang pas untuk diri kita dalam ko...

Manusia Langit: Hijrah Dari Bumi ke Langit

 Terjebak dalam kehidupan di bumi ini dengan segala bentuk keindahan dan kenikmatan yang ternyata membuat diri terlena dan lupa dengan kontrak hidup.  Tak banyak diri kita yang sadar dengan kondisi ini bahkan merasa nyaman dan bahkan bagaikan muncul dalam benak bahwa segala kehidupan dapat dibelinya.  Maka tak heran sibuknya aktivitas luar menjadikan diri tak pernah sibuk dalam keheningan untuk mengumpulkan kapasitas diri.  Hidup yang ternyata menjadikan pribadi yang lalai dan memudahkan urusan akibat buta dengan pemahaman atau pengetahuan jalan kehidupan yang harus ditempuhnya.  Malah mungkin bangga diri kita dikatakan sebagai pribadi yang membumi (menjadi manusia bumi) akibat terlalu sibuk dengan urusan dunia.   Semoga diri kita tidak termasuk dalam golongan ini dan tak heran maka sering diri kita sebagai manusia selalu diingatkan sebagai golongan yang tak pernah berpikir atau bersyukur dan sebagainya.  Bagaikan sebuah peringatan atau teguran ya...

Manusia Langit: Mengenal Bilangan Kehidupan

Di dalam kehidupan sehari-hari selalu berhubungan dengan angka dan angka hanyalah mungkin sebatas ukuran yang digunakan sebagai taksiran nilai.  Mungkin di dalam angka tersebut adalah segala hal yang berhubungan ukuran dengan fisik dan materi ataupun non fisik yang dimaterialkan.  Maka ketika di kaitkan dengan kehidupan diri sebagai manusia mungkin merupakan hal yang tidak lazim karena hanya sebatas ukuran itu saja. Tidak mungkin sesuatu yang ada di dunia ini tidak memiliki sebuah tanda-tanda agar diri selalu ingat pada hakekat tugas sebagai manusia yang sempurna.  Tugas yang mungkin bagi diri kita (waktu perjanjian) adalah sebuah tugas yang mudah dijalani oleh diri kita dalam kehidupan di dunia ini.  Namun akibat dari "lalai"nya diri atau di nol kan pemahaman hidup yang dijalani pada saat diri dilahirkan maka menjadikan diri lupa atau dilupakan dengan hakekat tugas yang seharusnya dilakukannya. Lupa dan lalainya diri kita sebagai manusia maka diingatkan dengan bilan...

Manusia Langit: Menggapai Kesempurnaan

Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Sang Pencipta yang sebuah karunia besar diberikan kepada diri kita sebagai manusia.  Sebagai makhluk yang sempurna pastilah memilki keistimewaan serta diharapkan akan menjadi kekasihnya dan diberikan tugas yang spesial dalam kehidupannya. Maka tidak heran muncul sifat yang tidak senang dari para malaikat dan iblis manakala Sang Pencipta hendak menciptakan diri manusia sebagai makhluk yang sempurna. Ketidaksetujuan dari para malaikat dan iblis tersebut menjadikan sebuah "guncangan/pemberontakan" yang pertama di surga manakala keduanya disuruh untuk sujud kepada Adam AS.  Namun hanya iblis yang tidak mau bersujud ketika pembuktian keistimewaan dan kesempurnaan sudah dibuktikan dan ditunjukkan memang manusia pantas untuk menjadi makhluk yang sempurna.  Peristiwa inilah asal muasal diri manusia akan menjalani kehidupan yang sulit bahkan melepas kesempurnaannya dengan terlena godaan manis bujuk rayuan kata dar iblis kepada A...

Manusia Langit: Universality of Law

Artikel ini lanjutan dari "Manusia Langit: Menebas Rantai dan Belenggu Kehidupan".  Dalam artikel tersebut membahas tentang banyaknya diri kita yang tidak mengetahui bahwa ternyata dalam kehidupan ini ibarat hidup yang selalu terjebak sehingga menjadikan diri kita selalu terpenjara pikir serta perasaan dengan beban kondisi perjalanan berat yang harus dijalani.  Dan hal ini mengakibatkan hidup yang dijalani hanya berorientasi sekedar menjadi "kuli panggul" atas beban kondisi kehidupan. Maka dalam tulisan ini mencoba mengajak diri kita mengkaji faktor dasar yang mengakibatkan memilih menjalani kehidupan hanya sekedar sebagai "kuli panggul" tersebut.  Faktor dasar yang sebetulnya menjadi akar permasalahan adalah hubungan dengan prinsip hidup yang dibangun dari hukum-hukum atau aturan-aturan hidup yang sudah ada sebelum diri kita dilahirkan.  Bahkan mungkin aturan-aturan atau hukum-hukum tersebut sudah dianggap sebagai ilmu atau pemahaman yang memiliki kebenar...

Manusia Langit: Menebas Rantai Dan Belenggu Kehidupan

 Tertulis dengan jelas dalam Buku bahwa banyak diri kita sebagai manusia gagal untuk menjadi derajat "orang atau seseorang" yang menunjukkan derajat tertinggi bagi makhluk.  Orang atau seseorang hakekatnya memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan dengan diri dengan sebutan sebagai manusia.  Namun banyak dari diri kita yang tidak pernah mau memahami makna dari hal tersebut karena menganggap bahwa itu hanya sekedar perbedaan kata ganti yang tak memiliki makna yang mendalam. Padahal jelas bahwa antara orang dan manusia memiliki perbedaan yang jelas di mata Sang Pencipta.  Karena di dalam makna  kata ganti tersebut menunjukkan derajat kepemilikan "ilmu" dan kepemilikan kemauan untuk menempuh jalan hidup yang lurus di kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal pulang. Sebuah kerugian yang besar manakala hal ini terjadi karena merupakan masalah sederhana yang sering ditemui namun dianggap sebagai perkara yang tidak bermakna kiasan.   Mengapa hal ini...

Identitas Manusia Langitan

Setiap manusia diciptakan untuk menjadi manusia langitan.  Bukti diri diciptakan untuk menjadi manusia langitan adalah disempurnakan penciptaan sebagai makhluk yang paling sempurna di atas makhluk lainnya.  Kesempurnaan diri sebagai manusia ini adalah sebagai bentuk cinta kasih dari Sang Pencipta kepada setiap insan yang sempurna dengan dibekali akal untuk bekal menjadi dan memiliki idententas sebagai manusia langitan. Maka tidak heran manakala diri manusia diciptakan pertama kali dengan perwakilan Adam AS seluruh makhluk penghuni langit untuk bersujud kepadanya.  Namun tidak semua makhluk yang ada mau bersujud kepadanya dikarenakan mengetahui derajat (bahan baku penciptaan) adalah dari unsur yang hina dan dianggap memiliki dan tidak pantas untuk menjadi "kekasih" Sang Pencipta. Penolakan sujud ini menjadi peristiwa yang besar dan akan menjadi penyebab banyaknya diri manusia yang gagal untuk mendapatkan "identitas" menjadi manusia langitan. Banyaknya diri yang gagal...