Manusia Langit: Akhirnya Setan Menangis Juga

Tidak bisa dipungkiri mungkin dibenak diri kita sehari-hari tidak pernah terbesit pikiran bahwa dalam kehidupan ini selalu membuat setan merasa bahagia dan puas dengan keberhasilan tugasnya.  Keberhasilan tugasnya tidak lain adalah mencari teman sejati untuk diajak tinggal bersama di rumah pembuangan yang dijanjikan oleh Sang Pencipta.  Ingatlah bahwa terbuangnya dia dari surga akibat dirinya hanya membantah satu perintah untuk bersujud kepada Adam.

Hanya satu perintah yang membuatnya terbuang dari kedekatan dengan Sang Pencipta karena kesombongannya menghapus segala kebaikan yang telah dia lakukan.  Betapa sedih dan kecewa dirinya dengan hal itu maka tidak salah dengan permintaan untuk "balas dendam" agar dia diberikan kesempatan mencari teman yang bisa untuk meramaikan tempat pembuangan.  Tangisan awal setan (pihak ketiga) ini yang terjadi sejak firman Sang Pencipta kecewa dengan perilaku kesombongannya dan mengakibatkan tidak mau sujud atau membangkang perintahNYA.  

Namun mungkin sekarang kondisi tangisan tersebut sudah berubah.  Dirinya tidak lagi menangis malah mungkin banyak tertawa dan bahagia dengan kondisi "pertunjukkan diri kita" dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  Dan ini dibuktikan sejak "manusia pertama" juga merasakan hal sama terbuang dan dilanjutkan dengan "keturunan Adam" yang banyak lalai dan terlena dengan derajatnya agar mencapai standar sebagai manusia yang sempurna.

Lalainya diri kita untuk mencari standar hidup itu bagaikan sebuah pertunjukkan komedi yang lucu dan menghibur bagi pihak ketiga sampai hari yang ditentukan. Kebahagian dan kepuasan yang mungkin sekarang terjadi dalam dirinya melihat tingkah polah diri kita dalam ke"fana"an hidup di dunia ini yang lalai dengan tugas diri sebagai manusia.  Itulah sebuah capaian keberhasilan kehidupan pihak ketiga menggagalkan produk unggulan dan mungkin juga "sebuah keprihatinan" yang dirasakan oleh Sang Pencipta.  Maka agar produk unggulanNYA tidak cacat (terbuang) Sang Pencipta mengutus "para utusan" dengan membawa petunjuk agar para manusia kembali ke jalan yang lurus.

Ingatlah bahwa Sang Pencipta adalah pemilik segala skenario yang ada dalam kehidupan.  Keberhasilan dan kebahagian pihak ketiga dengan gagalnya produk unggulan tidak membuatNYA bersedih dan menarik firman agar tempat pembuangan ditutup.  Namun mungkin malah menjadikan sebuah skenario kehidupan akan lebih panjang yang membuat cerita lebih menarik dan membuktikan bahwa setan pun bisa menangis akibat perbuatan produk unggulan tersebut. "Asmaul husna" adalah bukti dari sifat-sifatNYA agar menjadi motivasi dan membangkitkan ghirah diri kita yang tersesat agar menemukan jalan lurus untuk pulang.


Keliru Dengan Obat yang Memabukkan

Ketahuilah bahwa pihak ketiga adalah ahli strategi yang handal.  Namun dibalik kesempurnaan strateginya masih banyak kelemahan yang masih bisa diri kita cari agar diri tidak terjebak menjadi pengikutnya.  Maka akibatnya dirinya (pihak ketiga) bukanlah makhluk yang mudah patah atau putus asa karena tercipta dari bara yang membakar semangat hidupnya.  

Hal ini sangat berbeda dengan diri kita yang diciptakan dari tanah sehingga mengakibatkan mudah patah dan retak sehingga menjadi umat yang selalu ragu dan kuatir akan perjalanan hidup yang dijalani. Sifat mudah patah dan retak inilah sebetulnya celah mereka (pihak ketiga) agar diri kita selalu menjadi lemah.  Namun sebagai makhluk yang sempurna Sang pencipta sudah memberikan obat yang mampu membangkitkan keteguhan dan keyakinan manusia (diri kita) agar tidak tersesat atau terbuai dengan bujuk rayu pihak ketiga.

Obat yang sempurna itu sudah disempurnakan melalui banyak utusan yang dikirim kepada umat manusia dengan kadar-kadar yang berbeda-beda.  Dan akhirnya dengan ditutupnya utusan sebagai utusan terakhir yang dikirim, obat tersebut telah disempurnakan dan dicukupkan kadarnya serta dijaga kebenarannya agar diri kita mampu menemukan resep yang membangun keyakinan hidup untuk menuju manusia yang sempurna.

Obat yang sempurna itupun mungkin hanya sekedar angan bagi diri kita untuk ditemukan ditengah diri pusing dengan kondisi kehidupan yang dijalani.  Atau malah mungkin tidak pernah ditemukan akibat diri tidak mengenal atau terlalu mabuk dengan beban kehidupan.  Dan ini yang mungkin dikehendaki oleh pihak ketiga agar dirinya selalu dapat tertawa dengan drama komedi kehidupan manusia ini. Mabuk dengan keinginan agar diri selalu memuaskan nafsu yang menjadikan diri malas gerak untuk menemukan jalan pulang. Dan ketika kondisi ini terjadi maka tidak mungkin kebahagian serta kepuasaan pihak ketiga selalu menyertainya sambil menunggu akhir zaman.

Bahkan mungkin banyak juga obat yang dibawa sebagian diri kita yang sebetulnya merupakan obat palsu dengan label obat sempurna.  Hal ini diakibatkan kecerdikan dari pihak ketiga yang memiliki strategi jitu dalam mengelabuhi jalan untuk menuju kesesatan.  Dan juga jika diri memiliki kesadaran adalah karena diri kita tidak mengenal obat tersebut akibat malas baca petunjuk untuk kehidupan di dunia ini.

Betapa bodohnya diri kita manakala ini benar benar terjadi sekarang ini.  Kemabukan dengan kehidupan dunia yang menjadi framing (pembatas) dan menipu langkah diri dalam mencari bekal untuk pulang. Namun manakala kesadaran tidak pernah dicari atau diusahakan maka tidak mungkin karuniaNYA akan diberikan atau tidak akan ada hasil yang didapatkan tanpa disertai dengan upaya yang diri kita usahakan.

 

Setanpun Menangis

Upaya yang diri kita lakukan adalah langkah awal dengan membangun sebuah niat untuk membangkitkan dari rasa putus asa dan sifat keraguan yang selama ini menjadi penjara dalam kehidupan.  Sedikit upaya yang terus menerus akan di dekatkan dengan munculnya kesadaran untuk menemukan hakekat tentang hidup ini.  Dan hal ini akan membangun sebuah kesadaran bahwa seharusnya diri tidak hidup dalam "program komedi" seperti yang dikehendaki oleh pihak ketiga.

Kondisi pembangunan diri ini adalah sebuah langkah awal mengubah program komedi menjadi program pencarian jejak kebenaran tentang hidup.  Hal ini menjadi perubahan sikap pihak ketiga dari kebahagian menjadi sebuah kesedihan karena melihat adanya kesadaran diri dari kondisi mabuk kehidupan dunia.  Memang bukan hal yang mudah untuk melepas kecintaan pada dunia karena itu seperti sebuah pembalikan dari sesuatu yang umum menjadi sesuatu yang khusus sehingga butuh kekuatan dan keyakinan yang kuat.

Kesadaran dalam membangun kekuatan dan keyakinan inilah sebetulnya merupakan episode kesedihan mulai dirasakan oleh pihak ketiga.  Bahkan ketika pembangunan kesadaran ini semakin kuat maka diri kita akan mencapai "titik sujud" kepada Sang Pencipta.  Titik sujud adalah sebagai sebuah pengakuan diri atas Sang Pencipta dengan mengenal hakekat dari tujuan diciptakannya manusia sebagai makhluk yang memiliki derajat sempurna.   Titik sujud inilah sebetulnya seperti hal yang sama pada saat kondisi awal Adam AS diciptakan.  Ingatlah betapa Rahman dan RahimNYA Sang Pencipta kepada diri manusia yang jelas-jelas diciptakan dari hal yang rendah namun Dikehendaki menjadi makhluk yang memiliki derajat yang tertinggi.

Titik sujud ini terjadi ketika tiga elemen yang ada dalam diri kita terdapat tiga elemen yaitu elemen kehendak Tuhan. Elemen ini yang mencerminkan bahwa adanya kehendak dari Sang Pencipta dengan adanya manusia untuk diberikan tugas khusus dalam kehidupannya.  Diri kita yang memegang kehendak Sang Pencipta bagaikan sebuah surat kuasa untuk bertindak atas nama diriNYA.  Sebuah kedudukan yang agung manakala diri mampu mengartikannya.  Maka dengan elemen pertama ini siapapun makhluk yang ada harus tunduk kepada pemegang amanatnya.

Elemen kedua adalah kemalaikatan.  Elemen ini mencerminkan diri yang selalu tunduk dan patuh kepada sang pencipta karena hal ini sesuai dengan guru manusia pertama yaitu para malaikat.  Hidup diri manusia dengan elemen ini adalah hidupnya selalu melaksanakan perintahnya (beribadah dan berzikir) dalam kehidupannya.  Hal ini berarti bahwa segala sepak terjang atau aktivitasnya adalah karena Sang Pencipta dan bukan karena hal lain yang menjadi orientasinya.  Karena kepemilikan orientasi lain adalah sebuah pembangkangan dari tugas hidup yaitu (beribadah dan berzikir).  Satu ketundukan adalah hal yang mudah untuk diartikan yaitu dalam beraktivitas dikehidupan bukan untuk selain Sang Pencipta.  Ketika ketundukan lepas atau aktivitas dilakukan karena bukan takut kepada Sang Pencipta berarti diri kita sudah lepas dari unsur kemalaikatan.

Elemen ketiga adalah nafsu/diri.  Elemen ini mencerminkan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang terdiri dari banyak unsur (keinginan yang bersifat dunia) namun dalam proses penciptanya diri kita sudah diangkat (dibebaskan) dari sari-sari yang jelek.  Satu sari pati yang terbaik dari tanah adalah unsur hakiki proses dari penciptaan manusia.  Satu sari pati ini biasanya akan kalah dengan sari-sari pati yang lain manakala diri tidak mengetahuinya.  Dan satu sari pati ini seharusnya menjadi dominasi dan mampu menundukkan sari pati yang lain.  Peran sari pati inilah akan tercermin dalam perilaku diri manusia dan mampu berkembang kapasitasnya manakala  dapat ditemukan asupan yang benar.  Sari pati inilah sebetulnya merupakan memori dan alat picu kerjanya akal sebagai koneksi diri manusia dengan Sang Pencipta.

Tiga elemen yang membentuk diri manusia menapaki titik sujud ini dalam kehidupan fisik sehari-hari tercermin dalam posisi sujud pada saat peribadatan. Karena dalam posisi sujud inilah tiga hal elemen tersebut menyatu menjadi satu dan diri kita seharusnya terlepas dari berbagai keinginan yang ada dari kondisi kehidupan.  Hanya sebuah kepasrahan dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan serta sebuah simbul tundak pada kehendaknya karena mengakui keberadaan Sang Pencipta.

Maka dalam posisi sujud inilah sebetulnya sebuah peristiwa  yang mengingatkan pihak ketiga atas sebuah pembangkangan dirinya kepada Sang Pencipta.  Diingatkannya pihak ketiga dengan posisi diri kita pada saat sujud inilah membuat mereka menjauh dari manusia bahkan menangis dan meratapi kenapa salah dalam mengambil keputusan untuk sujud kepada Adam.

Namun bukanlah hal yang mudah membuat pihak ketiga menangis dalam melihat manakala diri kita bersujud.  Karena banyak sujud kita selalu diwarnai dengan keinginan yang tidak mencerminkan tiga elemen tersebut karena bisikan dan gangguan yang ada.  Maka mari kita benahi kondisi sujud diri kita agar dapat mencapai titik sujud tersebut.

 

Penutup

Hanya sekedar humor sufi yang mengangkat topik bahwa manusia adalah sumber dibuangnya pihak ketiga ke tempat pembuangan.  Maka sebuah dendam dari pihak ketiga mulai muncul untuk selalu mencari pengikutnya dari unsur manusia.  Diri akan tidak diganggu manakala mampu menemukan bahwa hakekat diri adalah menemukan titik sujud yang merupakan gabungan dari tiga elemen.  

 

Tidak ada yang lebih baik dari sujud yang manusia lakukan... Karena itu adalah hakekat dari makhluk yang sempurna... Tunduk kepada Tuhan karena diri mampu menundukkan malaikat dan manusia... Apakah diri tak pernah berpikir untuk mensyukurinya.
Tidak ada yang lebih baik dari sujud yang manusia lakukan... Karena itu membuat para syetan lari dan menangis serta meratap... Akibat lalai karena termakan dengan kesombongannya... Dan menjadikan peristiwa yang penuh penyesalan.


Magelang, 28/7/2024
Salam
KAS

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diri: Mencari Hakekat dan Indahnya Kematian

DIRI: KONFIRMASI UMUR DAN KEMATIAN

Manusia Langit: Universality of Law