Manusia Langit: Hijrah Dari Bumi ke Langit

 Terjebak dalam kehidupan di bumi ini dengan segala bentuk keindahan dan kenikmatan yang ternyata membuat diri terlena dan lupa dengan kontrak hidup.  Tak banyak diri kita yang sadar dengan kondisi ini bahkan merasa nyaman dan bahkan bagaikan muncul dalam benak bahwa segala kehidupan dapat dibelinya.  Maka tak heran sibuknya aktivitas luar menjadikan diri tak pernah sibuk dalam keheningan untuk mengumpulkan kapasitas diri. 

Hidup yang ternyata menjadikan pribadi yang lalai dan memudahkan urusan akibat buta dengan pemahaman atau pengetahuan jalan kehidupan yang harus ditempuhnya.  Malah mungkin bangga diri kita dikatakan sebagai pribadi yang membumi (menjadi manusia bumi) akibat terlalu sibuk dengan urusan dunia.  

Semoga diri kita tidak termasuk dalam golongan ini dan tak heran maka sering diri kita sebagai manusia selalu diingatkan sebagai golongan yang tak pernah berpikir atau bersyukur dan sebagainya.  Bagaikan sebuah peringatan atau teguran yang keras seharusnya mengena untuk diri kita bila menemukan bacaan ini namun karena diri tak pernah sadar maka dianggapnya bukan untuk kita.

Kondisi kebodohan (jahiliyah) sebetulnya posisi diri dalam kehidupan seperti ini.  Namun sebetulnya diri bukanlah manusia yang bodoh dan tak berilmu bahkan mungkin juga banyak orang alim dan guru-guru besar yang memiliki kredibilitas dan pengikut yang banyak.  Karena pemahaman yang dianut adalah  ilmu dan pengetahuan yang dimiliki memposisikan manusia sebagai subyek dan Sang Pencipta sebagai subyek.  Dan akibatnya adalah kerusakan dan pertumpahan darah yang terjadi  disebabkan pemahaman yang berkembang memposisikan atau mementingkan diri kita (sebagai subyek).

Ingatlah bahwa diri kita diciptakan oleh Sang Pencipta maka DIA adalah subyek dan bukan diposisikan sebagai obyek.  Maka seharusnya hidup diri kita adalah berpedoman dengan jalan DIA dan bukan jalan pemikiran manusia.  Agar diri kita selamat maka dibekali dengan Buku pedoman untuk menjadi pegangan dalam mencari bekal kehidupan yang nanti dibawa pulang.

 

Makna Hijrah (Perpindahan Derajat)

Sudah menjadi pemahaman dan pengetahuan umum bahwa manusia diciptakan dari tanah.  Karena dari unsur tanah maka tidak heran menurut asumsi pihak lain (malaikat dan iblis) tidak pantas untuk mengemban amanat sebagai khalifah dimuka bumi.  Dan inilah awal mula diri kita memiliki musuh abadi akibat dari pembangkangan kehendakNYA.

Tidak mudah memang hidup dalam posisi seperti ini yang menunjukkan bahwa penciptaan diri manusia diawali dengan penegasan tugas dan munculnya musuh sebagai penggoda.  Namun sayangnya DIA kepada diri kita sebagai makhluk yang memiliki derajat rendah dijadikan sebagai makhluk yang paling sempurna.  Kesempurnaan inilah seharusnya yang diraih dalam kehidupan dan bukan diberikan cuma cuma.

Untuk mencapati titik kesempurnaan sebagai umat manusia yang baik dibutuhkan perjuangan yang berat bahkan sampai penderitaan yang berkepanjangan.  Jika diri manusia tidak mampu menemukan pemahaman yang benar dan keluar dari belenggu pemahaman manusia maka kepulangan diri akan berakhir dalam kondisi yang menyedihkan.  

Pemahaman ini sebetulnya sudah diberikan perumpamaan atau gambaran seperti sebelas tahun perjuangan di Makkah untuk menemukan tangga naik.  Perjuangan dalam menemukan jalan kebenaran ternyata dirasakan sangat berat dan penuh siksaan yang digambarkan dalam sejarah tersebut.  Keluar atau berbeda pemahaman yang ada akibat dirasa membawa perbedaan dengan tata cara yang dirasa sudah memberikan kenyamanan hidup manusia ternyata menjadikan hidup bagaikan ditarik rantai dan belenggu.  

Perumpamaan ini adalah langkah pertama diri manusia untuk naik dengan menemukan pengetahuan yang sesuai dengan Buku.  Sebuah perjuangan yang menyita separuh perjalanan hidup manusia hanya untuk menemukan jalan dengan memahami diri dan fungsi akal sebagai bentuk pembeda antara manusia dengan makhluk lain.  Karena dengan mengenali dan memahami diri sehingga mampu melakukan koneksi adalah sebuah tugas yang berat baik dengan penderitaan fisik dan non fisik.

Penderitaan fisik adalah gambaran kepemilikan yang ada dalam diri manusia dan tidak hanya sekedar jasmani namun juga bentuk bawaan sesuatu yang tidak berwujud namun menyertai fisik manusia.  Atau dalam bahasa lain dikatakan sebagai unsur-unsur kemanusian yang menjadikan motivasi hidup sebagai makhluk yang terendah.  Dan dalam pemahaman umum dikatakan sebagai kepemilikan atas naluri/insting untuk bertahan hidup yang berhubungan dengan jasmani manusia.

Penderitaan non fisik bukan gambaran dari tekanan batin atau mental manusia namun merupakan sebuah pembebasan atas jiwa yang selama ini mungkin diri tidak pernah mengenal.  Bahkan banyak yang menyamakan jiwa adalah hati atau perasaan yang dimiliki dan selama ini sebagai motivasi dalam menjalani hidup.  Namun penderitaan non fisik ini adalah bentuk upaya diri untuk menemukan kembali bagian dari diri kita yang di dalamnya adalah tempat bersemayamnya ruh yang dibekalkan pada diri manusia.  Karena ruh memiliki sifat malakut (rekannya malaikat) yang berguna menampung pengetahuan dan memberikan penerang dalam kehidupun. 

Maka apabila diri tidak pernah menyadarinya mungkin penderitaan non fisik ini adalah bentuk diri tidak pernah menemukan keseimbangan hidup akibat tidak pernah memiliki keyakinan (keimanan) sehingga kekhawatiran dan ketakutan akan hidup adalah teman sehari-hari dalam kehidupan. Dan realita yang terjadi bila diri tidak pernah bertemu dengan ruh ini maka pikir akan dikuasai oleh perasaan.  Padahal seharusnya pikir adalah tempatnya akal sebagai koneksi diri dengan Sang Pencipta karena pikiran yang dihasilkan adalah sebuah pengetahuan yang selaras dengan kebenaran.

Langkah kedua adalah Menemukan Akal.  Penemuan akal ini adalah bagaikan sebuah kelulusan diri setelah proses belajar dan keluar dari rantai atau belenggu pemahaman tentang hidup yang selama ini diri kita miliki.  Akal inilah sebuah hasil pilihan jalan hidup yang berat.  Maka dikatakan sebagai alat kesempuarnaan manusia yang tidak diberikan secara cuma-cuma.  Memang akal diberikan kepada setiap manusia namun tidak semua diri manusia mampu menemukannya.  Hal ini sejalan dengan sebuah pernyataan yang ada di dalam Buku bahwa dikatakan banyak diri kita yang tidak menemui atau berhasil dalam mendapatkan.

Diri manusia yang mampu mendapatkan akal ini akan memiliki cara pandang (mindset) dalam berpikir yang benar.  Karena akal ini akan memberikan cara kerja pikir yang benar dengan berdasarkan ilham (firasat yang muncul dan bukan perasaan) atau pengetahuan yang sesuai dengan Pedoman hidup manusia.  Dan hal ini yang menjadikan diri kita berbeda dengan manusia atau makhluk lain karena hidup dalam aturan dan koidah manusia sempurna.

Langkah ketiga adalah Membangun Kapasitas.  Peristiwa membangun kapasitas ini diumpamakan seperti proses hijrah dan hidup di Madinah.  Maka tidak heran gambaran hidup di Madinah adalah sebuah idealnya kehidupan yang dijalani oleh umat manusia yang dimulai dari nol sampai berkembang sebagai sebuah negeri yang besar dan makmur.  

Demikian juga dengan diri kita sebagai manusia membangun menjadi pribadi yang baik laksana membangun sebuah negeri.  Gambaran membangun diri menjadi diri yang sempurna adalah modal awal untuk menciptakan negeri yang diidamkan.  Maka tidak heran Madinah lah gambaran kesuksesan membangun negeri yang dimulai dari membangun kapasitas diri yang berhasil karena sesuai dengan petunjuk yang dibawa langsung melalui malaikat.  Hubungan atau koneksi inilah yang menjadikan keberhasilan pembangunan kota madinah.

Kapasitas diri yang bertambah akan menjadikan diri manusia naik meninggalkan sifat-sifat kebumian atau kemanusiaan.  Maka dapat dikatakan manusia langit (manusia yang sempurna) adalah diri kita yang mampu meninggalkan manusia dan menjadi realisasi diri sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya.  Maka tidak heran ada sebuah pernyataan yang menunjukkan diri harus menjadi manusia langit karena adanya keheranan para malaikat melihat perwujudan manusia yang dianggap sebagai malaikat yang paling mulia.

Langkah keempat Hidup bagaikan di Surga.  Sebuah tujuan atau cita-cita hidup seluruh umat manusia apabila diberikan pertanyaan tentang tujuan akhir perjalanan hidup di dunia ini.  Namun pada hakekatnya mungkin surga tidak hanya ditemuai diakhir perjalanan akan tetapi sebetulnya ada dalam proses perjalanan. Diri dapat menikmati hidup laksana disurga manakala diri mampu menjadi manusia langitan karena dalam kehidupan ini yakin sudah dicukupkan dan dibekali dengan perbekalan yang cukup oleh Sang Pencipta.

Hidup bagaikan di surga bukan berarti diri m encintai dunia dan menganggap dunia adalah surga.  Ukuran surga dalam kehidupan ini adalah sesuatu hal yang berhubungan dengan kenikmatan hidup yang selalu disyukuri karena kecukupan kebutuhan dan bukan dari kecukupan atas keinginan yang dimiliki.  Sebuah kata yang sederhana yang menggantikan harta sebagai ukuran atas kepemilikan yang dimiliki oleh manusia.  Karena kecukupan atas kebutuhan yang terpenuhi akan bermuara pada kebahagian hidup sedangkan kepemilikan atas keinginan tidak pernah akan cukup sehingga tidak akan muncul benih-benih kebahagiaan dalam dada manusia.

Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa dikatakan manusia tidak akan merasa cukup karena hidupnya hanya menghabiskan rejeki yang baik hanya untuk bersenang-senang.  Hidup bersenang-senang di dunia ini bukanlah sifat kepribadian dari manusia langit karena bukan itu tujuan dari diri kita diciptakan.

Selamat berhijrah dari manusia bumi menjadi manusia langit.


Penutup

Hanya sekedar renungan atas makna dari hijrah dari cara pandang perpindahan dari diri sebagai manusia yang terbuat dari tanah untuk menjadi manusia langitan.. Mungkin ini hanya sekedar humor untuk menjadi renungan agar diri tidak salah pilih dalam memilih pengetahuan untuk menjadi pegangan dalam kehidupan di dunia ini.

Wahai diri dimanakah jiwa ini.. Apakah pernah terpikir dalam diri dengan pertanyaan ini... Karena tak pernah tersentuh dengan ilmu yang sejati.. Yang selalu diperjuangkan oleh Nabi
Wahai diri dimanakah posisi hidup sekarang ini... Apakah masih seperti diri sebagai unsur tanah yang mendominasi... Karena tak pernah tersentuh dengan ilmu yang pasti.. Karena sibuk dengan sesuatu yang tidak pasti.

 

Terima kasih
Magelang, 6/7/2023 ( 1 Muharam 1445 H)
KAS


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diri: Mencari Hakekat dan Indahnya Kematian

DIRI: KONFIRMASI UMUR DAN KEMATIAN

Manusia Langit: Universality of Law