Manusia Langit: Kebersyukuran Diri
Seringkali diri selalu diingatkan ataupun terbiasa mengucapkan syukur atas segala hal yang telah diberikanNYA kepada kita. Tindakan diri kita ini sebagai sebuah "kebiasaan yang latah" atau memang memahami apa yang seharusnya dilakukan atas rahmat dan rahman yang telah diterima. Jika hal ini dilakukan karena latah (tidak berasal dari hati) mungkin bisa dianggap sebagai sebuah "penghinaan" karena mengucapkan terima kasih yang dilakukan tidak berdasar. Dan mungkin ini juga sering kali diri kita melakukannya.
Dikatakan tidak berdasar karena diri melakukan sebatas keterkejutan atas hal yang diri terima. Sebuah kebodohan yang mungkin tidak disadari namun sering kali menjadi sebuah kebiasaan yang sering diri kita lakukan. Dan hal ini dapat dikatakan diri kita sebagai bagian orang yang "kerja" atau beraktivitas namun tidak didasarkan oleh pengetahuan atau ilmu. "Apakah kamu tidak berpikir" adalah sebuah pernyataan yang pas untuk diri kita dalam kondisi yang seperti ini.
Kata berpikir adalah sebuah dasar kerja diri yang seharusnya dilakukan dalam setiap melakukan aktivitas dalam berkehidupan. Maka hasil kerja yang dilakukan adalah sebuah kebenaran yang didasarkan oleh ilmu yang dimiliki dan bukan berdasarkan atas kebutuhan atau rasa yang dimiliki dalam diri kita. Maka kerja pikir pada diri sebagai manusia harus mampu menggantikan "kerja pikir" yang berasal dari perasaan.
Ketika diri mampu memisahkan dari mana "kerja" yang dilakukan berasal maka diri termasuk kategori manusia yang dikehendaki. Memang bukan hal yang mudah untuk dapat melakukan hal ini dikarenakan diri mungkin tidak mampu membedakannya antara pikir dan perasaan. Mengapa hal ini bisa terjadi dan tidak pernah terpikirkan? Jawaban dari pertanyaan ini mungkin menohok dan melukai perasaan karena diri tidak pernah menggunakan pendengaran dan penglihatan kita secara simultan sebagai sumber informasi dalam menggali ayat-ayat yang ada. Bekerja dengan pendengaran dan penglihatan yang simultan adalah sebuah proses belajar dan baca sambil membuktikan sebuah kebenaran. Maka kebenaran muncul tidak hanya informasi dari pendengaran atau informasi dari penghilatan saja melaikan sebuah proses yang saling berkaitan karena itu merupakan proses "baca".
Proses atau aktivitas baca yang seperti ini adalah tugas diri kita sehingga mampu mengenal informasi yang diterima dan mampu mengfungsikan pikir atau otak sebagai penimbang dan memutuskan hasilnya. Jadi otak atau pikir akan bekerja manakala dua alat tersebut difungsikan. Namun manakala hanya satu alat yang difungsikan maka yang bekerja buka pikir atau otak melainkan adalah perasaan untuk memenuhi keinginan maka yang dihasilkan bukan pengetahuan atau pemahaman melainkan penampungan perasaan.
Pengantar ini mengajak memahami kebersyukuran diri yang selalu kita lakukan ini mungkin sebuah "tendangan" yang menyakitkan. Karena diri kita hanya latah atau mungkin sekedar mengikuti tradisi umum yang dilakukan dari hasil informasi pendengaran yang didengar baik dari majelis dan nasehat atau melihat kebiasaan orang saja. Ingatlah informasi yang diterima belum tentu benar karena banyak dikembangkan oleh pemberi informasi walaupun didasarkan atas penafsiran dari sebuah ayat. Maka penting kiranya kebiasaan "baca" perlu dilakukan agar diri mampu menemukan kebenaran dan arti dari kebersyukuran tersebut.
Bersyukur
Kebiasaan diri yang melakukan aktivitas bersyukur dengan lisan dan sering kali diikuti dengan hal yang lain adalah sebuah perbuatan yang baik. Namun manakala diri tidak memahami hal yang baik itu maka belum tentu menemukan sebuah kebenaran. Maka tidak aneh banyak hal yang baik sering kali kita lihat dan bahkan dilakukan namun diikuti dengan melakukan hal yang tidak baik. Ini mungkin tidak pernah diri kita sadari karena terlena dengan kebiasaan. Bahkan mungkin yang lebih "memabukkan" adalah melakukan kebaikan karena ingin mendapatkan balasan (baik balasan dari Sang Pemberi dan manusia lain). Bukankah ini seperti seorang anak kecil yang diberi hadiah kemudian mengucapkan terima kasih agar diberi lebih banyak atau mendapatkan nilai dari orang lain bahwa si anak itu anak yang baik.
"Bersyukurlah maka akan bertambah rejekimu" sering kali diri dengar dan diartikan dengan bersyukur maka rejeki yang diterima semakin banyak. Ungkapan ini menunjukkan betapa terpenjaranya pikir kita dengan hal-hal yang bersifat fisik atau non fisik yang diwujudkan fisik. Ini karena diri kita selalu berpikir pada untung rugi bilangan kehidupan. Padahal perintah untuk bersyukur adalah sebuah makna yang komprehensip yang memuat sebuah keseimbangan kehidupan.
Bersyukur dalam keseimbangan kehidupan merupakan sebuah pemahaman atau pengetahuan yang harus diketahui dan dikerjakan oleh diri manusia sebagai makhluk yang sempurna. Kesempurnaanlah dasar ilmu untuk memahami pengetahuan tentang makna akan bersyukur. Maka sebagai makhluk yang sempurna yang terdiri dari unsur kemanusiaan dan ketuhanan selalu diwujudkan dalam bentuk unsur fisik (sifat kemanusiaan) dan ketuhanan (alam ruh). Dua wujud yang menjadi satu dalam diri manusia ini menjadikan sebuah dasar dalam memahami pengetahuan dan menjadi pemahaman yang harus digunakan sebagai dasar pengembangan ilmu yang digunakan sebagai pegangan dalam aktivitas kerja dalam berkehidupan di dunia ini.
Pengetahuan bersyukur ini menjadi benar manakala ilmu dikembangkan dari pemahaman tersebut. Dua unsur yang ada menjadi satu gabungan ilmu syukur yang mencerminkan keseimbangan atau terdiri dari dua unsur antara sifat kemanusiaan (fisik) dan ketuhanan (ruh).
Unsur fisik memberikan penjelasan tentang bagaimana wujud berterimakasihnya diri kepada Sang Pencipta dalam hubungannya dengan diberikannya bentuk kesempurnaan yang membedakan dengan makhluk lainnya. Keunggulan diri dengan makhluk lain ini adalah sebetulnya merupakan sebuah "ujian" yang diberikan kepada manusia. Maka tugas diri adalah untuk selalu membawa kesempurnaan itu dengan menempatakan posisi yang selalu mencerminkan derajat tertinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Maka wujud bersyukurnya adalah berhubungan dengan diri secara sempurna. Manakala diri bersyukur adalah mencerminkan seluruh fisik (sifat kemanusiaan) melakukannya. Dan ketika bersyukur sebagai wujud terima kasih atas rahman dan rahimNYA maka menjaga atau menemukan dan menempatkan diri sebagai manusia yang sudah meninggalkan naluri dan menggunakan nuraninya. Hal ini berarti bahwa diri bersyukur tidak karena adanya muatan keinginan sebagai manusia namun untuk menghidupkan nurani sebagai makhluk yang sempurna.
Sedangkan unsur ruh memberikan penjelasan tentang bagaimana wujud berterimakasihnya diri kepada Sang Pencipta dalam hubungannya dengan diberikannya petunjuk untuk jalan kehidupan yang benar. Diberikannya pedoman hidup yang diwujudkan dalam sebuah Buku Petunjuk Jalan adalah berhubungan dengan unsur ketuhanan yang ada dalam diri (jiwa) manusia tidak mati. Unsur ketuhanan inilah hakekat dari diri manusia sebagai wakil Tuhan dialam semesta. Maka manakala diri manusia mampu menghidupkan jiwa dengan cara "baca" Buku yang sudah diberikan berdampak pada keseimbangan kehidupan alam semesta.
Demikian juga sebaliknya jika manusia lupa akan tugas diri menemukan atau mengenali dirinya yang di dalamnya ada unsur ketuhanan maka jiwa akan mati atau dipenjara oleh pihak ketiga dan mengakibatkan hilangnya keseimbangan kehidupan. Kerusakan alam dan pertumpahan darah serta lupa akan keseimbangan hidup akibat tidak memiliki jiwa atau jiwa diri manusia yang masih dirantai dan dibelenggu. Maka dapat dikatakan hidup diri selalu dalam kondisi mabuk akibat terlalu banyaknya "minum air" pengetahuan yang keliru.
Bentuk bersyukur dalam hubungannya dengan unsur ini adalah selalu belajar dan baca agar diri selalu memiliki pemahaman yang benar dan dikembangkan menjadi ilmu. Dan hasil belajar dan baca dari Buku tersebut akan berimplementasi pada perbuatan yang benar dan sesuai dengan sunnah yang ada. Karena janji Sang Pencipta akan selalu membantu diri manusia manakala diri mau "baca" dengan memberikan pemahaman yang tidak tahu dari mana diri mendapat pemahaman tersebut. Betapa besar sayang Tuhan kepada diri manusia yang tidak pernah diri sadari. Maka bersyukur dalam hubungannya dengan unsur ketuhanan ini tidak lain adalah belajar dan selalu "baca" agar diri tidak tersesat dalam perjalanan untuk pulang.
Penutup
Hanya sekedar belajar memahami makna bersyukur secara mendalam yang dikemas dalam humor sufi. Jika salah silahkan anda tertawa dan apabila benar mari kita selalu "baca" agar diri bisa sempurna di dalam melakukan syukur atas nikmat yang diberikanNYA.
Terima kasih
Magelang, 10/7/2024
KAS
Komentar
Posting Komentar