Manusia Langitan: Dari Ketiadaan Menuju Keberadaan

Pernahkah diri kita berpikir bahwa mengapa diri diciptakan dan dijadikan manusia untuk hidup di dunia ini?  Mungkin bagi diri yang terlalu sibuk dengan pekerjaan tidak pernah memiliki pertanyaan seperti ini atau malah mungkin tidak menghiraukan dengan hal ini karena buat apa memikirkannya dan malah menjadikannya pusing.   Atau malah memiliki pikiran bahwa itu bukan urusannya karena sudah ada yang memikirkan dan diri kita tinggal mengikutinya saja.  Dan ketika kondisi seperti sudah terjadi maka jalan untuk menemukan jati diri sebagai manusia dengan kesempurnaannya tidak akan pernah ditemukan karena semakin jauh kepemilikan pemahaman tentang hidup yang benar ditemukan di kehidupan yang dijalani.

Pemahaman tentang diri kita diciptakan dan dihidupkan dimuka bumi tidak sekedar hidup yang seperti ini.  Karena dunia hanyalah sebagai proses diri untuk menuju keberadaan manusia yang sejati. Maka hakekat dari "keberadaan" diri sebagai manusia sebetulnya bukan tentang sesuatu yang menjadi tujuan dalam kehidupan di dunia.  Dan ketika pemahaman ini dapat disadari maka cita-cita hidup bukan fokus pada agar memperoleh nama dalam perjalanan di kehidupan ini.  Tetapi sebuah pengakuan "keberadaan" diri dari proses kehidupan dari tiada menjadi ada untuk menjadi penghuni rumah yang sudah disediakan.

Secara sederhana pemahaman ini dapat di gambarkan dalam sebuah pengetahuan yang kita miliki sekarang bahwa tidak mungkin Sang Pencipta menciptakan surga tanpa ada perencanaan siapa yang akan menjadi penghuninya.  Ingatlah bahwa perencanaan milik Sang Pencipta adalah sempurna maka pasti sudah komplit dengan hal-hal yang prosedural dan non prosedural.  Namun karena Rahman dan RahimNYA seharusnya diri sebagai manusia mampu mencapai titik "ada" sebagai akhir dari pencapaian kehidupan kita. Proses menjalankan KehendakNYA dengan hadirnya manusia adalah dari ketiadaan menuju keberadaan dan agar berhasil sempurna maka diciptakan diri kita dari hal yang rendah dan dijadikan derajat yang tertinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Berbahagia mungkin menjadi hal yang pertama didengar manakala diri memang diciptakan khusus untuk menjadi penghuni surga.  Namun sedih manakala diri menyadari butuh perjuangan yang keras dan panjang untuk menjadi makhluk yang sempurna dan memiliki derajat yang tinggi ini. Ingatlah Sang Pencipta memiliki Rahman dan Rahim karena tahu bahwa calon makhluk sempurna ini adalah pribadi yang mudah putus asa dan selalu hidup dibawah kendali perasaan ragu-ragu.  Maka Sang Pencipta sudah memberikan pedoman untuk dijadikan teman dan pegangan dalam proses perjuangan yang berat ini.  Dan memberikan jaminan bahwa pedoman tersebut akan menunjukkan jalan yang lurus dan mudah  untuk mencapai tujuannya.


Dari Tidak ada menuju Ada

Ketika membahas tentang diri kita dalam hubungannya dengan dari tidak ada menuju ada maka mungkin kebanyakan akan berorientasi pikir pada sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan kita di dunia ini.  Ternyata realita pemahaman diri kita hanya akan tertuju (terbatas) pada hal-hal yang berhubungan dengan proses penciptaan manusia sehingga dapat hidup di dunia ini.  Di mulai dari hal-hal yang berhubungan dengan pembuahan sampai dilahirkannya manusia di muka bumi ini.  

Memang proses penciptaan itu ada dan dijelaskan dalam Buku Pedoman yang selalu kita baca.  Namun apakah hanya sebatas ini penciptaan manusia menurut kehendakNYA.  Dan manakala diri kita memahami hanya sebatas ini bagaimana proses penciptaan manusia maka otomatis pemahaman tidak akan berkembang dan membawa untuk merubah dari makhluk rendah menjadi makhluk yang memiliki derajat yang tertinggi.  Hal ini akibat dari satu sisi yang tidak dibahas (dari aspek Ruhuniah) yang dilahirkan bersama lahirnya jasad manusia dikala dilahirkan.  Memang dinyatakan bahwa urusan ruh adalah urusanNYA namun pengenalan diri tentang hadirnya ruh dalam diri kita wajib untuk dihidupkan juga.

Ketidak seimbangan "asupan" atau ilmu tentang diri manusia yang terlalu condong pada aspek jasadiyah inilah yang menyebabkan diri sibuk dengan urusan dunia.  Maka tidak heran maka ketika diri dihubungkan dengan hal-hal non fisik akan merasakan beban yang semakin bertambah bahkan menjadikan diri "malas/sesak dada" dan lain sebagainya termasuk lalai dengan urusan ini.  Bahkan menjadikan sebuah penelitian-penelitian yang berujung pada ketakjuban diri atas proses penciptaan fisik manusia sebagai area berpikir para ilmuwan.  Dan mungkin lebih "menyesatkan" lagi bagaimana bisa membuat kesempurnaan sebagai makhluk manusia dengan pendekatan ilmiah atau teknologi yang bersifat jasadiyah.

Bukankah ini sebuah "penjara pemahaman" yang sudah diwariskan kepada diri kita akibat melupakan unsur non jasad (ruh) yang seharusnya juga perlu untuk dipahami.  Ingatlah "ruh adalah urusanKU" bukan berarti diri lepas dari masalah yang bersinggungan dengan hal itu.  Namun perlu dikembangkan sebuah kajian bagaimana agar diri mampu menghidupkan ruh tersebut dalam diri kita.  Karena dikatakan "ruh adalah urusanKU" maka hakekatnya adalah sebuah benang penghubung atau konektivitas diri manusia dengan Sang Pencipta.  

Sebagai benang penghubung atau konektivitas ini maka ruh pun butuh dengan asupan yang tidak kalah berbeda dengan asupan jasadiya.  Jika wujud asupan jasadiyah adalah makan dan minum yang setiap hari diri kita lakukan maka ruh pun juga butuh hal yang sama.  Pemahaman asupan ruh tidak sekedar dengan pengajian atau membaca yang biasa diri lakukan dibutuhkan seperti proses yang panjang agar koneksi itu bisa terjadi (butuh dihidupkan).  Proses yang panjang ini sama halnya dengan "rasa takjub" dalam penciptaan jasadiyah manusia.  Sayangnya pengetahuan yang ada tentang pemahaman rasa takjub yang berhubungan ruh ini bagaikan disembunyikan atau hilang dari pengetahuan dan ilmu yang dipelajari serta dikembangkan manusia sekarang ini.  Bagaikan sebuah rahasia yang disembunyikan dengan alasan bahwa "ruh adalah urusanNYA'.

"Ruh adalah urusanNYA" memang betul sebuah statement dari Sang Pencipta.  Karena membahas ruh adalah berhubungan dengan hal yang penting karena menyangkut status "khalifatul fil ard" dan berhubungan dengan alam semesta.  Namun manakala diri melepas pemahaman tentang ruh dan hanya menganggap ruh adalah sekedar nyawa maka ibarat diri memutus konektivitas dan menjadikan diri hidup bagaikan makhluk yang memiliki derajat yang rendah.  Maka tidak heran banyak diri kita sekarang ini yang hidup lebih buas dari hewan yang buas dan lebih malas daripada kerja (bagaikan pengemis) yang hanya butuh "asupan" dan pemberian dari sang tuhannya.  

(Berlanjut pada Manusia Langit: Dari Ketiadaan Menuju Keberadaan (2)).


Penutup

Hanya sekedar humor sufi yang mengajak diri untuk merenung agar mampu menemukan pemahaman hidup yang benar dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  Sebagai tulisan humor tidak ada yang lucu untuk ditertawakan namun bedanya pemahaman itulah yang mungkin sebagai bahan untuk ditertawakan manakala diri sempit dada kita.

 

Terima kasih
Magelang, 15/7/2024
KAS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diri: Mencari Hakekat dan Indahnya Kematian

DIRI: KONFIRMASI UMUR DAN KEMATIAN

Manusia Langit: Universality of Law