Postingan

Manusia Langit: Mengenal Bilangan Kehidupan

Di dalam kehidupan sehari-hari selalu berhubungan dengan angka dan angka hanyalah mungkin sebatas ukuran yang digunakan sebagai taksiran nilai.  Mungkin di dalam angka tersebut adalah segala hal yang berhubungan ukuran dengan fisik dan materi ataupun non fisik yang dimaterialkan.  Maka ketika di kaitkan dengan kehidupan diri sebagai manusia mungkin merupakan hal yang tidak lazim karena hanya sebatas ukuran itu saja. Tidak mungkin sesuatu yang ada di dunia ini tidak memiliki sebuah tanda-tanda agar diri selalu ingat pada hakekat tugas sebagai manusia yang sempurna.  Tugas yang mungkin bagi diri kita (waktu perjanjian) adalah sebuah tugas yang mudah dijalani oleh diri kita dalam kehidupan di dunia ini.  Namun akibat dari "lalai"nya diri atau di nol kan pemahaman hidup yang dijalani pada saat diri dilahirkan maka menjadikan diri lupa atau dilupakan dengan hakekat tugas yang seharusnya dilakukannya. Lupa dan lalainya diri kita sebagai manusia maka diingatkan dengan bilan...

Manusia Langit: Menggapai Kesempurnaan

Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Sang Pencipta yang sebuah karunia besar diberikan kepada diri kita sebagai manusia.  Sebagai makhluk yang sempurna pastilah memilki keistimewaan serta diharapkan akan menjadi kekasihnya dan diberikan tugas yang spesial dalam kehidupannya. Maka tidak heran muncul sifat yang tidak senang dari para malaikat dan iblis manakala Sang Pencipta hendak menciptakan diri manusia sebagai makhluk yang sempurna. Ketidaksetujuan dari para malaikat dan iblis tersebut menjadikan sebuah "guncangan/pemberontakan" yang pertama di surga manakala keduanya disuruh untuk sujud kepada Adam AS.  Namun hanya iblis yang tidak mau bersujud ketika pembuktian keistimewaan dan kesempurnaan sudah dibuktikan dan ditunjukkan memang manusia pantas untuk menjadi makhluk yang sempurna.  Peristiwa inilah asal muasal diri manusia akan menjalani kehidupan yang sulit bahkan melepas kesempurnaannya dengan terlena godaan manis bujuk rayuan kata dar iblis kepada A...

Manusia Langit: Universality of Law

Artikel ini lanjutan dari "Manusia Langit: Menebas Rantai dan Belenggu Kehidupan".  Dalam artikel tersebut membahas tentang banyaknya diri kita yang tidak mengetahui bahwa ternyata dalam kehidupan ini ibarat hidup yang selalu terjebak sehingga menjadikan diri kita selalu terpenjara pikir serta perasaan dengan beban kondisi perjalanan berat yang harus dijalani.  Dan hal ini mengakibatkan hidup yang dijalani hanya berorientasi sekedar menjadi "kuli panggul" atas beban kondisi kehidupan. Maka dalam tulisan ini mencoba mengajak diri kita mengkaji faktor dasar yang mengakibatkan memilih menjalani kehidupan hanya sekedar sebagai "kuli panggul" tersebut.  Faktor dasar yang sebetulnya menjadi akar permasalahan adalah hubungan dengan prinsip hidup yang dibangun dari hukum-hukum atau aturan-aturan hidup yang sudah ada sebelum diri kita dilahirkan.  Bahkan mungkin aturan-aturan atau hukum-hukum tersebut sudah dianggap sebagai ilmu atau pemahaman yang memiliki kebenar...

Manusia Langit: Menebas Rantai Dan Belenggu Kehidupan

 Tertulis dengan jelas dalam Buku bahwa banyak diri kita sebagai manusia gagal untuk menjadi derajat "orang atau seseorang" yang menunjukkan derajat tertinggi bagi makhluk.  Orang atau seseorang hakekatnya memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan dengan diri dengan sebutan sebagai manusia.  Namun banyak dari diri kita yang tidak pernah mau memahami makna dari hal tersebut karena menganggap bahwa itu hanya sekedar perbedaan kata ganti yang tak memiliki makna yang mendalam. Padahal jelas bahwa antara orang dan manusia memiliki perbedaan yang jelas di mata Sang Pencipta.  Karena di dalam makna  kata ganti tersebut menunjukkan derajat kepemilikan "ilmu" dan kepemilikan kemauan untuk menempuh jalan hidup yang lurus di kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal pulang. Sebuah kerugian yang besar manakala hal ini terjadi karena merupakan masalah sederhana yang sering ditemui namun dianggap sebagai perkara yang tidak bermakna kiasan.   Mengapa hal ini...

Identitas Manusia Langitan

Setiap manusia diciptakan untuk menjadi manusia langitan.  Bukti diri diciptakan untuk menjadi manusia langitan adalah disempurnakan penciptaan sebagai makhluk yang paling sempurna di atas makhluk lainnya.  Kesempurnaan diri sebagai manusia ini adalah sebagai bentuk cinta kasih dari Sang Pencipta kepada setiap insan yang sempurna dengan dibekali akal untuk bekal menjadi dan memiliki idententas sebagai manusia langitan. Maka tidak heran manakala diri manusia diciptakan pertama kali dengan perwakilan Adam AS seluruh makhluk penghuni langit untuk bersujud kepadanya.  Namun tidak semua makhluk yang ada mau bersujud kepadanya dikarenakan mengetahui derajat (bahan baku penciptaan) adalah dari unsur yang hina dan dianggap memiliki dan tidak pantas untuk menjadi "kekasih" Sang Pencipta. Penolakan sujud ini menjadi peristiwa yang besar dan akan menjadi penyebab banyaknya diri manusia yang gagal untuk mendapatkan "identitas" menjadi manusia langitan. Banyaknya diri yang gagal...

Menyingkap Tabir Langit

Tuhan... Betapa bodoh diri ini yang tak paham tentang kehidupan... Terbawa arus yang hanya berputar tak punya tujuan... Di ombang-ambing oleh arus air yang tak pernah sampai ke lautan. Tuhan... Apakah skenario ini yang kau berikan... Kebimbangan dan keraguan menjadikan diri salah jalan... Memilih jalan bengkok adalah impian yang ada. Kemarin Kau sampaikan lewat pembawa ajaran... Jalan lurus yang harus ditiru dalam kehidupan.. Namun banyak lawan yang berkepentingan... Menjadikan jalan seperti bercabang-cabang Kemarin Kau titipkan lewat pembawa risalah... Agar diri manusia mengenal buku panduan... Namun malasnya baca jadi teman perjalanan... Menjadikan diri terpenjara dalam kebodohan. Diri telah menempuh perjalanan yang panjang... Malam dan siang ingin mencari hal yang benar... Bagaikan menyemai biji di air yang deras... Tak pernah tumbuh kesadaran untuk menemukan kebenaran. Matahari dan bulan serta bintang menari di atas awan... Tertawa melihat diri ditengah kebingungan... Menari dengan...

Menggapai Pintu Langit

Janganlah selalu menutup pintu... Tak pernah tersentuh kebahagian jika pintu tak pernah terbuka... Bagaikan belenggu yang memenjara... Menjadikan diri tak memiliki arah perjalanan. Terdengar salam yang memanggil... Terbangun dari tidur yang terlalu lama... Terbuai dengan kehangatan dan kenyamanan kondisi.... Bangun dan bersegera menuju pintu yang ada di depan mata. Cepatlah di buka karena telah menunggu lama... Sang tamu terlalu sabar dan terus menerus mengucap salam...  Agar pintu segera dibuka... Namun diri tak tahu cara membukanya. Oooiii betapa bodohnya diri kita... Tak pernah mau belajar cara membuka... Karena kesadaran jauh dari jangkauan kehidupan... Terlalu terlelap dengan mimpi yang menghiasi kepemilikan pengetahuan yang ada. Dengarkan dan sadarilah...  Karena Aku siap menjemput kehadiran diri kita... Jika diri mampu membuka pintu yang ada...  Perlu baca yang seksama agar dapat pengetahuan. Pintu terbuka akan terhubung dengan halaman hati.... Ada teman setia yang...